OtomotifMobilReview Mazda CX-60 Sport: Ketika Dua DNA Menjadi Satu

Review Mazda CX-60 Sport: Ketika Dua DNA Menjadi Satu

MAZDA CX-60 SPORT, IA MERUPAKAN SEBUAH JEMBATAN BAGI MEREKA YANG MENCARI SUV PREMIUM MODERN, NAMUN MASIH MERINDUKAN RASA BERKENDARA YANG JUJUR, PRESISI, DAN TIDAK SEPENUHNYA DIKENDALIKAN OLEH LAYAR SERTA ELEKTRONIKA.

OLX News – Di zaman yang sudah serba canggih ini, memilih mobil bukan lagi perkara sederhana. Hampir semua pabrikan berlomba-lomba menawarkan fitur mutakhir, mesin dengan beragam bentuk elektrifikasi, layar besar di mana-mana, sampai kontrol kendaraan yang semakin banyak dipindahkan ke dalam sistem digital.

- Advertisement -

Bagi sebagian orang, tentu hal ini menyenangkan. Mobil terasa lebih modern, lebih futuristis, dan seolah membawa kita lebih dekat ke masa depan. Namun bagi mereka yang benar-benar menikmati kegiatan menyetir, situasinya bisa sedikit berbeda.

Terlalu banyak layar, terlalu banyak menu, dan terlalu banyak intervensi kadang justru membuat koneksi antara pengemudi dan mobil terasa semakin jauh. Padahal, dalam situasi tertentu, berkendara membutuhkan sesuatu yang lebih sederhana: posisi duduk yang pas, setir yang komunikatif, pedal yang natural, respons mesin yang jujur, dan rasa percaya diri ketika mobil diajak bergerak cepat.

- Advertisement -

Di tengah arus industri yang sedang bergerak ke arah serba digital tersebut, Mazda CX-60 terasa seperti mengambil jalan yang sedikit berbeda. Apalagi pada varian Sport, SUV ini mencoba menawarkan formula yang tidak sepenuhnya mengikuti arus: tetap modern, tetap canggih, tetapi masih menyisakan ruang besar untuk kesenangan mengemudi.

Dalam review Mazda CX-60 Sport kali ini, kami mencoba melihat apakah varian bermesin 2.5L ini masih membawa karakter khas Mazda yang selama ini dikenal dekat dengan pengemudi. Sebab CX-60 Sport bukan hanya versi lebih terjangkau dari CX-60 bermesin 3.3L, tetapi juga interpretasi berbeda dari sebuah medium SUV premium.

- Advertisement -

Sebelumnya, kami sudah pernah mencoba Mazda CX-60 Elite AWD bermesin 3.3L inline-six turbo mild hybrid dalam perjalanan menuju Purwokerto. Saat itu, CX-60 meninggalkan impresi yang cukup kuat sebagai SUV Mazda yang paling matang, paling bertenaga, sekaligus paling ambisius yang pernah dijual resmi di Indonesia.

Kali ini, skenarionya berbeda.

Mazda Indonesia memberikan kami kesempatan untuk mencoba Mazda CX-60 Sport, varian bermesin 2.5L SKYACTIV-G dengan konfigurasi penggerak roda belakang atau rear-wheel drive. Bukan lagi mesin enam silinder besar dengan tenaga melimpah, melainkan mesin empat silinder naturally aspirated yang lebih familiar bagi pengguna Mazda di Indonesia.

Rutenya pun tidak main-main. Kami menggunakan mobil ini di dalam kota Jakarta, lalu membawanya menempuh perjalanan jauh menuju Palembang melalui jalur Tol Trans Sumatera. Dari kemacetan kota, lintasan tol panjang, jalan bergelombang di beberapa ruas, hingga masuk ke kawasan Palembang seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, tepian Sungai Musi, dan area Jakabaring, perjalanan ini memberi gambaran yang cukup utuh tentang karakter Mazda CX-60 Sport.

Di sinilah menariknya. Sebab pengujian ini bukan hanya menjadi kesempatan untuk menilai Mazda CX-60 sebagai SUV keluarga premium, tetapi juga untuk melihat apakah dua DNA besar Mazda bisa benar-benar menyatu di mobil ini: DNA premium comfort dan DNA driving pleasure.

Eksterior Mazda CX-60 Sport: Tetap Gagah, Tetap Mahal

Tampak Depan Mazda CX-60 Sport

Secara tampilan, Mazda CX-60 Sport tidak memiliki perbedaan yang terlalu mencolok dibandingkan varian Elite maupun Kuro yang bermesin 3.3L. Bentuk dasarnya tetap sama: kap mesin panjang, proporsi bodi yang tegap, overhang yang terasa pas, dan siluet SUV yang lebih menyerupai grand tourer jangkung dibanding SUV keluarga biasa.

Inilah salah satu daya tarik terbesar Mazda CX-60. Dari beberapa sudut, mobil ini seperti punya aura coupe SUV Eropa. Bahkan secara visual, tarikan garis bodinya mengingatkan kami pada SUV premium seperti Maserati Levante, terutama dari komposisi kap mesin panjang, kabin yang sedikit mundur, serta postur samping yang terasa atletis.

Mazda memang tidak membuat CX-60 untuk terlihat terlalu ramai. Tidak ada lekukan berlebihan, tidak ada aksen krom yang dipaksakan, dan tidak ada desain yang terasa ingin berteriak mencari perhatian. Semuanya dibuat kalem, matang, dan proporsional.

Perbedaan paling mudah dikenali pada Mazda CX-60 Sport ada di desain pelek. Varian ini menggunakan pelek 20 inci dengan desain single tone satin finish. Ukurannya 20 x 7.5J, dibalut ban 235/50 R20.

Secara visual, pelek ini membuat karakter Mazda CX-60 Sport terasa sedikit lebih bersih dan elegan. Tidak seagresif varian lain yang memakai finishing lebih gelap atau lebih kontras, tetapi tetap cukup besar untuk mengisi ruang fender dengan proporsional.

Bagi kami, desain eksterior Mazda CX-60 Sport adalah contoh bagus bagaimana sebuah SUV premium tidak harus tampil berlebihan untuk terlihat mahal. Ia tidak mencoba menjadi paling mencolok di jalan, tetapi ketika dilihat lebih lama, detail dan proporsinya mulai terasa semakin kuat.

Kesan itu juga terasa ketika mobil ini kami bawa masuk ke Palembang. Di sekitar Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak, desain Mazda CX-60 Sport terlihat elegan tanpa harus berlebihan. Sementara saat berada di kawasan Jakabaring yang lebih lapang dan modern, proporsi bodinya yang panjang, kap mesin tegas, serta postur atletisnya terasa semakin pas.

Interior Mazda CX-60 Sport: Lebih Gelap, Tetap Premium

Interior Steer Mazda CX-60 Sport

Masuk ke dalam kabin, barulah perbedaan antara Mazda CX-60 Sport dan varian 3.3L seperti Elite atau Kuro mulai terasa lebih jelas.

Mazda CX-60 Sport menggunakan interior full black. Jok, dashboard, panel pintu, hingga beberapa elemen kabin didominasi warna hitam. Secara karakter, pilihan warna ini membuat kabin terasa lebih sporty dan lebih aman dari noda, terutama untuk penggunaan harian atau perjalanan jauh bersama keluarga.

Namun secara personal, kami masih lebih menyukai interior Mazda CX-60 Elite yang memakai warna broken white. Warna tersebut membuat kabin terasa lebih terang, lebih lapang, dan lebih sesuai dengan karakter premium yang ingin dibawa CX-60.

Meski begitu, satu hal yang patut diapresiasi adalah kualitas materialnya. Walaupun ini adalah varian Sport, Mazda tidak serta-merta membuat kabinnya terasa murah. Area soft touch masih banyak ditemukan, baik di dashboard maupun panel pintu. Permukaan yang sering tersentuh tetap terasa empuk dan solid.

Inilah salah satu kelebihan Mazda dalam beberapa tahun terakhir. Mereka mungkin bukan brand premium dalam pengertian logo, tetapi cara Mazda merancang material kabin, tombol, layout, dan posisi mengemudi sudah semakin mendekati rasa mobil premium.

Layar tengah 12,3 inci tetap hadir dengan sistem Mazda Connect. Yang kami suka, Mazda masih mempertahankan commander control di konsol tengah. Di saat banyak pabrikan mulai memindahkan hampir semua fungsi ke layar sentuh, Mazda tetap percaya bahwa tidak semua hal harus disentuh langsung di layar.

Ketika mobil berjalan, memutar knob fisik untuk memilih menu terasa jauh lebih natural dan aman dibanding harus mencondongkan badan ke depan untuk menyentuh layar. Ini hal kecil, tetapi bagi pengemudi yang sering melakukan perjalanan jauh, pendekatan seperti ini sangat terasa manfaatnya.

Jok Mazda CX-60 Sport: Suportif, Tapi Bukan yang Paling Empuk

Jok Mazda CX-60 Sport

Jok Mazda CX-60 Sport menjadi salah satu bagian yang meninggalkan kesan cukup kuat. Bentuknya semi-bucket dengan side bolster yang cukup tebal. Ketika badan masuk ke dalam jok, terasa jelas bahwa Mazda ingin memberikan dukungan tubuh yang baik, terutama saat mobil diajak menikung atau berjalan cepat.

Posisi duduknya juga sangat mudah dibuat ideal. Setir bisa diatur dengan rentang yang luas, pedal terasa lurus dengan kaki, dan orientasi dashboard membuat pengemudi merasa benar-benar menjadi pusat kabin.

Namun untuk urusan empuk, jok Mazda CX-60 Sport bukan yang paling memanjakan. Busa joknya terasa cenderung padat. Bagi kami, ini bukan masalah karena karakter tersebut justru membuat tubuh tidak mudah lelah ketika perjalanan jauh. Tetapi bagi pengguna yang terbiasa dengan SUV medium yang joknya empuk dan rebah, CX-60 bisa terasa sedikit kaku.

Karakter ini sejalan dengan setup mobil secara keseluruhan. Mazda CX-60 Sport bukan SUV yang sejak awal hanya mengejar kenyamanan lembut. Ia lebih seperti SUV yang ingin menjaga postur tubuh pengemudi dan mobil tetap terkendali dalam berbagai kondisi.

Posisi Mengemudi: Salah Satu yang Terbaik di Kelasnya

Setir Mazda CX-60 Sport

Kalau ada satu hal yang membuat Mazda CX-60 Sport terasa berbeda dari kebanyakan medium SUV lain, jawabannya ada di posisi mengemudi.

Mobil ini memang punya dimensi besar. Panjangnya mencapai 4.740 mm, lebarnya 1.890 mm, dan wheelbase-nya 2.870 mm. Secara ukuran, ia bermain di wilayah yang sama dengan medium SUV seperti Honda CR-V atau Hyundai Santa Fe.

Namun begitu duduk di balik kemudi, sensasinya tidak terasa seperti membawa SUV besar yang tinggi dan berat. Posisi duduknya bisa dibuat rendah, setirnya terasa dekat, dan pedalnya punya orientasi yang sangat natural.

Ketika jok kami atur di posisi paling rendah, rasanya hampir lupa bahwa kami sedang membawa sebuah medium SUV sepanjang lebih dari 4,7 meter. Sensasinya justru lebih mirip sedan jangkung atau wagon besar dengan ground clearance lebih tinggi.

Ini bukan pujian kecil. Sebab banyak SUV modern yang memang terasa nyaman, tetapi tetap membuat pengemudi sadar bahwa ia sedang membawa mobil besar. Mazda CX-60 Sport berbeda. Ia menyembunyikan dimensinya dengan sangat baik.

Di dalam kota Jakarta maupun ketika masuk ke area padat Palembang, hal ini membuat Mazda CX-60 Sport terasa lebih mudah dikendalikan dari yang kami bayangkan. Visibilitas baik, radius putar masih masuk akal, dan kamera 360 derajat sangat membantu saat harus bermanuver di ruang sempit.

Fitur ADAS Mazda CX-60: Halus dan Tidak Mengganggu

Mazda CX-60 Foto

Salah satu bagian yang cukup mengejutkan dalam review Mazda CX-60 ini adalah sistem bantuan mengemudinya.

Mazda membekali CX-60 dengan rangkaian fitur i-Activsense yang cukup lengkap, mulai dari Mazda Radar Cruise Control atau MRCC, Lane Departure Warning System, Lane Keep Assist System, Blind Spot Monitoring, Rear Cross Traffic Alert, Smart Brake Support, Traffic Jam Assist, sampai 360 View Monitor with See-Through View.

Di atas kertas, daftar fitur seperti ini mungkin terdengar biasa saja karena banyak mobil modern juga sudah memilikinya. Namun yang membedakan adalah cara sistem tersebut bekerja.

Dalam perjalanan menuju Palembang melalui Tol Trans Sumatera, MRCC dan lane keeping Mazda CX-60 Sport terasa sangat halus. Mobil tidak terasa terlalu agresif saat menjaga jarak, tidak mendadak melakukan koreksi setir secara kasar, dan tidak membuat pengemudi merasa seperti sedang berebut kontrol dengan sistem.

Jujur saja, kami bukan tipe yang mudah percaya pada sistem adaptive cruise control dan lane keeping sebuah mobil. Terlalu banyak sistem yang di atas kertas terdengar canggih, tetapi dalam praktiknya terasa kasar, ragu-ragu, atau terlalu sering membuat pengemudi waswas.

Namun pengalaman positif kami sebelumnya dengan Mazda CX-60 Elite menuju Purwokerto membuat kami lebih yakin menggunakan sistem ADAS di CX-60 Sport. Dan di Tol Trans Sumatera, keyakinan itu kembali terbayar.

Tol Trans Sumatera memiliki karakter yang cukup berbeda dari tol di Pulau Jawa. Beberapa bagiannya terasa panjang, lurus, dan monoton, tetapi di sisi lain ada bagian tertentu yang permukaan jalannya tidak selalu mulus, terutama ketika mendekati area Kayuagung dan beberapa ruas menuju Palembang.

Di kondisi seperti ini, fitur seperti MRCC, Lane Keep Assist System, Lane Departure Warning System, dan Traffic Jam Assist terasa sangat membantu. Bukan dalam arti membuat pengemudi bisa melepas tanggung jawab, tetapi lebih sebagai rekan yang mengurangi beban selama perjalanan jauh.

Sistemnya bukan menggantikan pengemudi, tetapi membantu mengurangi beban. Terutama di rute panjang yang lurus, monoton, dan membutuhkan konsentrasi tinggi dalam waktu lama.

Bisa dibilang, teknologi di Mazda CX-60 Sport bukan hadir untuk mengambil alih kesenangan mengemudi. Ia hadir sebagai penjaga ritme. Ketika pengemudi ingin menikmati jalan, sasis dan setirnya siap memberi rasa. Ketika perjalanan mulai panjang dan tubuh mulai lelah, ADAS-nya membantu menjaga fokus tetap terjaga.

Suspensi Mazda CX-60 Sport: Lebih Bersahabat, Tapi Tetap Kaku

Mazda CX-60 Exterior

Mazda CX-60 Sport menggunakan suspensi depan double wishbone dan belakang multi-link. Secara teori, ini adalah konfigurasi yang sangat menjanjikan untuk rasa berkendara. Dan dalam praktiknya, setup ini memang memberikan karakter yang sangat khas.

Di jalan mulus, Mazda CX-60 Sport terasa solid. Mobil melaju dengan rasa mantap, tidak mengambang, dan tidak banyak gerakan bodi yang tidak perlu. Ketika kecepatan naik, bodi tetap terasa terkunci dengan baik.

Namun ketika melintasi jalan jelek di sekitar Tol Kayuagung dan beberapa bagian jalan Trans Sumatera yang cukup bumpy, karakter suspensinya mulai terasa jelas. Mazda CX-60 Sport memang tidak sekaku versi 3.3L Elite AWD yang pernah kami coba, tetapi tetap tergolong kaku untuk ukuran medium SUV.

Bantingan suspensinya padat. Lubang kecil dan sambungan jalan masih terasa masuk ke kabin. Bukan sampai mengganggu, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa Mazda CX-60 bukan SUV yang mengejar kenyamanan lembut seperti sofa berjalan.

Bagi penumpang belakang, karakter ini mungkin akan terasa lebih jelas, terutama ketika jalan bergelombang dilibas dalam kecepatan tinggi. Jadi jika prioritas utama adalah kenyamanan maksimal untuk keluarga, terutama di jalan rusak, ada beberapa rival yang mungkin terasa lebih empuk.

Namun seperti banyak hal dalam dunia otomotif, selalu ada harga yang harus dibayar. Dan pada Mazda CX-60 Sport, kekakuan suspensi tersebut dibayar dengan handling yang sangat baik.

Handling Mazda CX-60 Sport: Medium SUV yang Terasa Seperti Hot Hatch

Mazda CX-60 Nikung

Inilah bagian yang membuat kami tersenyum.

Mazda CX-60 Sport mungkin punya dimensi besar, bobot lebih dari 1,7 ton, dan postur sebagai medium SUV. Namun ketika diajak menikung cepat, mobil ini sama sekali tidak terasa kikuk.

Body roll sangat minim. Setir terasa presisi. Perpindahan bobotnya terbaca dengan baik. Bahkan ketika menikung di jalan tol dengan kecepatan di atas 120 km/jam, Mazda CX-60 Sport tetap terasa santai dan percaya diri.

Ada rasa yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan. Mobil ini tidak hanya stabil, tetapi juga komunikatif. Ia memberi tahu pengemudi apa yang sedang terjadi di bawah ban, tanpa membuat kabin terasa terlalu sibuk.

Dalam beberapa momen, Mazda CX-60 Sport bahkan terasa seperti hot hatch yang tubuhnya membesar. Tentu ini bukan mobil kecil yang lincah di tikungan sempit, tetapi untuk ukuran medium SUV, cara mobil ini menjaga postur di tikungan benar-benar impresif.

Kinematic Posture Control atau KPC juga punya peran di sini. Sistem ini membantu mengurangi body roll dan menjaga stabilitas saat menikung. Hasilnya, mobil terasa lebih datar, lebih tenang, dan lebih siap mengikuti kemauan pengemudi.

Di sinilah DNA Mazda terasa paling kuat. Mazda CX-60 Sport bukan hanya SUV yang bisa dikendarai jauh, tetapi SUV yang membuat pengemudi ingin terus menyetir.

Mesin Mazda CX-60 Sport: Cukup, Tapi Tidak Melimpah

Mesin Mazda CX-60 Sport

Mazda CX-60 Sport dibekali mesin SKYACTIV-G 2.5 liter empat silinder naturally aspirated. Mesin ini memiliki kapasitas 2.488 cc, menghasilkan tenaga 188 PS pada 6.000 rpm dan torsi 250 Nm pada 3.000 rpm.

Tenaga tersebut disalurkan ke roda belakang melalui transmisi otomatis 8-percepatan.

Secara karakter, mesin Mazda CX-60 Sport terasa halus, linear, dan mudah dikontrol. Tidak ada lonjakan tenaga tiba-tiba, tidak ada turbo lag, dan tidak ada drama. Untuk penggunaan harian di dalam kota maupun cruising di jalan tol, performanya cukup.

Namun setelah pernah merasakan Mazda CX-60 Elite dengan mesin 3.3L inline-six turbo mild hybrid, harus diakui bahwa mesin 2.5L ini terasa lebih moderat.

Di putaran bawah, mesin ini terasa harus bekerja lebih keras untuk menghela bobot Mazda CX-60 yang lebih besar dibanding Mazda CX-5. Bukan berarti underpower, karena mobil ini tetap bisa melaju cepat dan menyalip dengan aman. Tetapi untuk ukuran sebuah Mazda, terutama Mazda dengan platform longitudinal dan penggerak roda belakang, kami berharap ada tenaga yang lebih menggigit.

Mesin 2.5L ini terasa seperti dua sisi koin. Di satu sisi, ia lebih sederhana, lebih familiar, dan secara teori lebih mudah dirawat. Di sisi lain, ia tidak memberikan sensasi spesial seperti mesin 3.3L inline-six yang terasa jauh lebih effortless.

Jadi, jika Mazda CX-60 Elite 3.3L terasa seperti grand tourer yang sedang menyamar menjadi SUV, maka Mazda CX-60 Sport terasa seperti SUV premium yang diberi sasis sangat baik, tetapi mesinnya masih bermain aman.

Transmisi Mazda CX-60 Sport: 8-Speed yang Jadi Nilai Plus

Yang sangat kami apresiasi dari Mazda CX-60 Sport adalah transmisinya.

Mazda menggunakan transmisi otomatis 8-percepatan. Perpindahannya tergolong cepat untuk sebuah transmisi AT konvensional, responsnya sigap, dan rasio giginya terasa pas untuk menjaga mesin tetap berada di rentang tenaga yang dibutuhkan.

Di dalam kota, perpindahan gigi berlangsung halus. Di jalan tol, transmisi mampu menjaga putaran mesin tetap rendah saat cruising. Ketika butuh akselerasi untuk menyalip, kickdown-nya juga tidak terasa malas.

Dengan mesin 2.5L yang tenaganya tidak terlalu besar, transmisi punya peran penting untuk menjaga Mazda CX-60 Sport tidak terasa kedodoran. Dan menurut kami, transmisi 8-speed ini berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.

Selain itu, karena basisnya tetap automatic konvensional, ada rasa kepercayaan lebih dari sisi durability dan perawatan jangka panjang. Bagi pembeli yang ingin mobil premium tetapi tetap ingin rasa aman dalam kepemilikan, hal ini tentu menjadi nilai tambah.

Konsumsi BBM Mazda CX-60 Sport: Tidak Sehemat yang Kami Harapkan

Untuk konsumsi bahan bakar, hasil yang kami dapatkan cukup menarik.

Dalam rute kombinasi dengan penggunaan AC maksimal, Mazda CX-60 Sport mencatatkan konsumsi sekitar 1:9 km/l. Sementara untuk rute luar kota dengan kecepatan rata rata 100km/h dan dominasi jalan tol, angkanya berada di sekitar 1:11 km/l.

Angka ini sebetulnya tidak buruk untuk medium SUV bermesin 2.5L naturally aspirated dengan bobot lebih dari 1,7 ton. Namun jika dibandingkan dengan pengalaman kami menggunakan Mazda CX-60 3.3L, hasil ini terasa kurang impresif.

Menariknya, versi 3.3L justru bisa terasa lebih hemat dalam kondisi tertentu. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena power to weight ratio versi 3.3L jauh lebih baik. Mesin enam silindernya tidak perlu bekerja sekeras mesin 2.5L untuk menggerakkan bodi Mazda CX-60.

Di Mazda CX-60 Sport, mesin 2.5L harus lebih sering membuka throttle lebih dalam, terutama saat akselerasi, menyalip, atau menjaga kecepatan tinggi di jalan tol. Akibatnya, konsumsi BBM tidak sebaik ekspektasi kami.

Jadi jika tujuan utama memilih Mazda CX-60 Sport adalah mengejar efisiensi bahan bakar yang jauh lebih baik dari versi 3.3L, hasilnya mungkin tidak selalu seperti yang dibayangkan.

Harga Mazda CX-60 Sport dan Positioning di Indonesia

Mazda CX-60 Belakang

Mazda CX-60 Sport diposisikan sebagai pintu masuk menuju keluarga CX-60 di Indonesia. Dengan harga sekitar Rp720 juta OTR Jakarta, varian ini jelas jauh lebih terjangkau dibandingkan Mazda CX-60 Elite dan Kuro bermesin 3.3L yang bermain di atas Rp1 miliar.

Secara positioning, Mazda CX-60 Sport berada di wilayah yang menarik. Harganya masih bersinggungan dengan medium SUV Jepang dan Korea kelas atas, tetapi pendekatan yang ditawarkan berbeda.

Jika Honda CR-V menawarkan paket SUV keluarga yang sangat rasional, Hyundai Santa Fe menawarkan kenyamanan dan teknologi, maka Mazda CX-60 Sport menawarkan sesuatu yang lebih emosional: desain elegan, interior premium, layout mesin longitudinal, penggerak roda belakang, dan rasa berkendara yang lebih serius.

Ini bukan mobil yang paling luas di kelasnya. Bukan juga yang paling empuk. Bukan yang paling irit. Namun Mazda CX-60 Sport punya karakter yang jauh lebih kuat dibanding banyak SUV lain di rentang harga serupa.

Mazda CX-60 Sport adalah pilihan untuk orang yang masih peduli pada rasa. Untuk mereka yang tidak hanya ingin sampai ke tujuan, tetapi juga ingin menikmati proses menuju ke sana.

Final Verdict

Exterior CX-60 Sport

Mazda CX-60 Sport adalah mobil yang menarik karena ia hidup di antara dua dunia.

Di satu sisi, ia adalah SUV premium modern dengan fitur lengkap, kabin berkualitas, desain elegan, dan teknologi keselamatan yang sangat membantu. Di sisi lain, Mazda CX-60 Sport tetap membawa DNA Mazda yang paling murni: posisi mengemudi rendah, setir presisi, sasis komunikatif, dan handling yang membuat pengemudi merasa terlibat.

Dua DNA ini tidak selalu mudah disatukan. Banyak SUV premium yang nyaman tetapi terasa hambar. Banyak mobil fun to drive yang menyenangkan tetapi kurang praktis. Mazda CX-60 Sport mencoba berdiri di tengah-tengahnya.

Hasilnya memang tidak sempurna. Suspensinya masih terasa kaku untuk ukuran medium SUV. Mesin 2.5L-nya cukup, tetapi tidak seistimewa mesin 3.3L inline-six. Konsumsi bahan bakarnya juga tidak sehemat yang kami harapkan.

Namun semua kekurangan itu tidak menghapus satu fakta penting: Mazda CX-60 Sport adalah salah satu medium SUV paling menyenangkan untuk dikendarai di kelasnya.

Setelah menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Palembang, karakter mobil ini terasa semakin jelas. Di Tol Trans Sumatera, kami merasakan sisi dinamisnya. Di jalan yang bergelombang, kami juga merasakan komprominya. Lalu ketika masuk ke Palembang dan melewati Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, tepian Sungai Musi, hingga kawasan Jakabaring, Mazda CX-60 Sport menunjukkan sisi lain sebagai SUV elegan yang tetap pantas berada di kota dengan karakter kuat.

Mobil ini cocok untuk kamu yang sedang mencari medium SUV premium dengan desain khas coupe SUV, material kabin yang sudah setara brand premium, fitur keselamatan lengkap, dan yang paling penting, rasa berkendara yang masih menempatkan pengemudi sebagai bagian utama dari pengalaman.

Bagi sebagian orang, SUV adalah tentang ruang, kenyamanan, dan fitur. Tetapi bagi Mazda, SUV juga bisa menjadi tentang koneksi.

Jika Mazda CX-60 3.3L adalah oase bagi mereka yang merindukan mesin besar dan tenaga melimpah, maka Mazda CX-60 Sport adalah jembatan antara kebutuhan modern dan rasa berkendara klasik.(FA)

What We Like

  • Desain eksterior elegan dan terasa premium
  • Interior menggunakan material berkualitas
  • Posisi mengemudi sangat baik, hampir terasa seperti sedan
  • Handling impresif untuk ukuran medium SUV
  • Body roll minim dan stabil di kecepatan tinggi
  • ADAS bekerja halus dan bisa dipercaya tanpa terlalu mengganggu
  • Transmisi 8-speed responsif dan punya rasio yang pas
  • Penggerak roda belakang memberi karakter berkendara yang berbeda

What We Don’t Like

  • Suspensi masih terasa kaku untuk medium SUV
  • Mesin 2.5L terasa kurang bertenaga di putaran bawah
  • Konsumsi BBM tidak sehemat ekspektasi
  • Interior hitam terasa kurang lapang dibanding versi Elite
  • Kenyamanan jok lebih suportif daripada empuk

Spesifikasi Mazda CX-60 Sport

Spesifikasi Mazda CX-60 Sport
Mesin SKYACTIV-G 2.5L
Konfigurasi 4-silinder segaris, DOHC, 16-valve
Kapasitas mesin 2.488 cc
Tenaga maksimum 188 PS / 6.000 rpm
Torsi maksimum 250 Nm / 3.000 rpm
Transmisi 8-speed automatic
Penggerak Rear-wheel drive
Panjang 4.740 mm
Lebar 1.890 mm
Tinggi 1.682,5 mm
Wheelbase 2.870 mm
Ground clearance 173,8 mm
Bobot kosong 1.744 kg
Suspensi depan Double wishbone
Suspensi belakang Multi-link
Ukuran ban 235/50 R20
Ukuran pelek 20 x 7.5J
Kapasitas tangki 58 liter
Harga Rp720 juta OTR Jakarta