Sabtu, Maret 7, 2026
BeritaSejarah Operasi Zebra di Indonesia dan Tujuan Pelaksanaannya

Sejarah Operasi Zebra di Indonesia dan Tujuan Pelaksanaannya

Cari tahu sejarah Operasi Zebra di Indonesia sejak awal mula di Irian Jaya (Papua) pada tahun 1978 hingga penerapannya di seluruh Indonesia.

- Advertisement -

OLX News – Sebelum merambah ke seluruh kota di Indonesia, sejarah Operasi Zebra ternyata bermula dari keresahan aparat terhadap rendahnya kesadaran keselamatan berlalu lintas.

Pada akhir 1970-an, pelanggaran terjadi hampir tanpa kendali. Mulai dari pengendara melaju tanpa perlengkapan keselamatan, pengabaian terhadap rambu lalu lintas, hingga risiko kecelakaan terjadi setiap hari.

- Advertisement -

Dari kondisi inilah lahir sebuah operasi penertiban yang kemudian dikenal luas sebagai Operasi Zebra. Operasi Zebra merupakan langkah tegas dari Kepolisian Republik Indonesia untuk menanamkan disiplin dan menyelamatkan nyawa di jalan raya.

Lebih lengkap, inilah sejarah operasi Zebra dan tujuan pemberlakuannya.

- Advertisement -

Sejarah Operasi Zebra

Sejarah Operasi Zebra di Indonesia bermula pada tahun 1978 di wilayah Irian Jaya, yang kini dikenal sebagai Papua.

Sosok penting di balik lahirnya operasi ini adalah Brigadir Jenderal Soedarmadji, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Polisi (Kadapol) Irian Jaya.

Pada masa tersebut, Soedarmadji melihat kondisi lalu lintas yang memprihatinkan. Banyak pengendara sepeda motor tidak menggunakan perlengkapan keselamatan dan mengabaikan rambu-rambu lalu lintas. Pelanggaran terjadi hampir di setiap ruas jalan, tanpa rasa takut terhadap sanksi hukum bahkan nyawanya yang terancam apabila terjadi laka.

Dikutip dari Suara Pembaruan, jumlah kendaraan yang tidak menaati peraturan lalu lintas pada saat itu mencapai 20.000 unit, dengan pelanggaran terbanyak didominasi oleh pengendara sepeda motor. Angka ini menunjukkan betapa rendahnya kesadaran masyarakat terhadap keselamatan berkendara.

Melihat kondisi tersebut, Soedarmadji mulai berpikir keras. Ia menyadari bahwa imbauan semata tidak akan cukup mengatasinya. Di sini, mereka memerlukan langkah tegas yang mampu memberi efek jera sekaligus menanamkan disiplin berlalu lintas. Dari sinilah muncul gagasan operasi penertiban perilaku berkendara dengan sandi Zebra.

Nama “Zebra” dipilih sebagai simbol ketegasan dan keteraturan, layaknya garis zebra cross yang mengatur pergerakan pengguna jalan. Operasi Zebra menekankan penindakan tanpa pandang bulu terhadap setiap pelanggaran, sekecil apa pun kesalahannya.

Hasilnya cukup mengejutkan. Operasi ini terbukti efektif meningkatkan kesadaran masyarakat Irian Jaya akan pentingnya mematuhi aturan lalu lintas, terutama demi keselamatan diri sendiri.

Perluasan Operasi Zebra ke Bali dan Nusa Tenggara

Keberhasilan Operasi Zebra di Irian Jaya tidak berhenti di sana. Pada tahun berikutnya, Brigadir Jenderal Soedarmadji pindah tugas ke Denpasar, Bali, dan menjabat sebagai Kadapol untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Kondisi lalu lintas yang ia temukan di Bali ternyata tidak jauh berbeda. Banyak pengendara masih abai terhadap aturan dan keselamatan. Berbekal pengalaman sebelumnya, Soedarmadji kembali menerapkan Operasi Zebra.

Namun, pelaksanaan Operasi Zebra di Bali tidak berjalan mulus. Penolakan dari masyarakat cukup besar. Banyak pihak, terutama sopir menganggap operasi ini terlalu keras dan merugikan pengendara.

Situasi ini membuat Gubernur Bali saat itu turun tangan langsung. Pemerintah daerah bersama kepolisian memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Operasi Zebra bukan semata-mata untuk menghukum, melainkan untuk melindungi nyawa pengguna jalan. Perlahan, perlawanan masyarakat pun mereda dan Operasi Zebra dapat berjalan lebih efektif.

Operasi Zebra Menyebar ke Jawa Timur hingga Nasional

Gaung keberhasilan Operasi Zebra akhirnya terdengar hingga Jawa Timur. Pada masa itu, kondisi lalu lintas di wilayah tersebut tergolong darurat. Angka kecelakaan sangat tinggi, bahkan dalam satu hari bisa terjadi empat kecelakaan yang menelan korban jiwa.

Menanggapi kondisi tersebut, Polda Jawa Timur mengadakan Operasi Zebra dengan landasan hukum UU No. 3 Tahun 1965 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Setiap pelanggaran ditindak tegas sesuai aturan yang berlaku.

Puncaknya, Operasi Zebra resmi diberlakukan secara serentak di seluruh Indonesia pada 25 Juli 1985. Tanggal ini menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya Operasi Zebra dilaksanakan di Ibu Kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya secara nasional.

Sejak saat itu, Operasi Zebra menjadi agenda rutin kepolisian yang terus berlanjut hingga sekarang, dengan penyesuaian aturan dan teknologi sesuai perkembangan zaman.

Tujuan Pelaksanaan Operasi Zebra

Tujuan utama Operasi Zebra adalah meningkatkan kepatuhan dan kesadaran masyarakat terhadap keselamatan berkendara. Operasi ini tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga edukasi.

Beberapa tujuan penting Operasi Zebra antara lain:

  • Meningkatkan disiplin pengendara dalam mematuhi rambu lalu lintas.
  • Menekan angka kecelakaan dan fatalitas di jalan raya.
  • Mendorong kelengkapan berkendara, seperti SIM, STNK, helm standar, spion, dan lampu kendaraan.
  • Menumbuhkan budaya tertib lalu lintas demi keselamatan bersama.

Dengan kepatuhan terhadap aturan, risiko kecelakaan dapat ditekan, dan jalan raya menjadi ruang yang lebih aman bagi semua pengguna.

Melihat panjangnya sejarah Operasi Zebra, jelas bahwa operasi ini lahir bukan untuk menakut-nakuti pengendara, melainkan sebagai upaya nyata melindungi keselamatan masyarakat. Disiplin berlalu lintas adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas aparat kepolisian.

Agar lebih siap saat Operasi Zebra berlangsung, pastikan kendaraan dan perlengkapan berkendaramu selalu lengkap. Jika ada perlengkapan yang perlu diganti atau dilengkapi, segera cari berbagai kebutuhan berkendara di OLX.

Populer.
Reka Harnis
Reka Harnis
Passionate about turning ideas into engaging, informative, and SEO-friendly content.
Berita Terkait