Simak analisis mendalam nasib mobil Renault di Indonesia tahun 2026. Dari fitur unggulan, harga baru bekas, hingga layanan purna jual sebelum Anda memutuskan.
OLX News – Kehadiran Renault di kancah otomotif Tanah Air membawa warna tersendiri dengan cita rasa Eropa yang khas namun sering kali mengalami pasang surut dalam hal eksistensi manajemen. Di bawah Maxindo Mobil International, pabrikan asal Prancis ini mencoba bertahan dengan strategi produk yang menyasar segmen harga terjangkau melalui lini produk rakitan India.Â
Bagi konsumen Indonesia, memiliki mobil berlogo wajik ini menawarkan gengsi tersendiri. Namun bayang-bayang keraguan mengenai kelangsungan layanan purna jual sering menjadi penghalang utama. Â
Lini Produk Andalan: Triber, Kiger, dan Kwid Climber
Menurut situs resmi dan katalog produk terbaru di media sosial Maxindo Mobil International, Renault kini memfokuskan penjualannya pada tiga model inti yang menyasar segmen pembeli pertama. Ketiga model ini dirancang untuk mengisi ceruk pasar yang padat namun dengan pendekatan desain yang berbeda dari kompetitor Jepang. Berikut adalah spesifikasi singkat dan posisi pasar dari jajaran produk yang masih ditawarkan:
Renault Triber
Mobil ini adalah tulang punggung penjualan Renault saat ini, berwujud MPV kompak dengan konfigurasi 7-penumpang. Keunikannya terletak pada fleksibilitas kursi baris ketiga yang bisa dilepas pasang dengan mudah Easy Fix, memberikan ruang bagasi masif saat tidak digunakan. Ditenagai mesin 1.000 cc, Triber menawarkan fitur keselamatan 4 airbag pada varian tertinggi dengan harga yang bersinggungan langsung dengan LCGC 7-seater.
Renault Kiger
Hadir sebagai penantang di kelas SUV kompak, Kiger berbagi platform dengan Nissan Magnite namun dengan desain yang lebih muscular. Mobil ini menawarkan opsi mesin 1.000cc Turbo dan Non-Turbo. Keunggulan utamanya ada pada transmisi CVT yang halus dan ground clearance tinggi (205 mm), menjadikannya teman yang tangguh untuk melibas jalanan perkotaan yang tidak rata.
Renault Kwid Climber
Sering dikategorikan sebagai city car dengan rasa SUV, Kwid Climber menonjolkan desain yang bold dan maskulin. Meskipun dimensinya kecil, mobil ini memiliki fitur ground clearance tinggi layaknya crossover. Kwid menjadi opsi entry-level bagi mereka yang menginginkan mobil baru dengan harga sangat kompetitif namun enggan memilih mobil LCGC standar.
Baca Juga: Renault Triber: Spesifikasi dan Fitur Unggulan
Keunggulan Mobil Renault di Indonesia

Renault memiliki strategi unik dengan menyuntikkan DNA mobil Eropa ke dalam produk berharga ekonomis. Hal ini menciptakan proposisi nilai yang sulit ditandingi oleh kompetitor sekelasnya jika hanya melihat dari sisi kelengkapan produk. Berikut adalah alasan mengapa konsumen masih melirik brand ini:
Value for Money
Renault berani memberikan fitur mewah di rentang harga mobil murah. Sebagai contoh, tipe Kiger dan Triber sudah dilengkapi dengan panel instrumen full digital yang modern. Bahkan pada Kiger, konsumen dimanjakan dengan fitur Apple CarPlay dan Android Auto yang sudah nirkabel (wireless), sebuah fitur yang biasanya baru ditemukan pada mobil Jepang dengan harga di atas Rp400 juta.
Kenyamanan Suspensi
Salah satu hal yang tidak bisa bohong dari mobil Renault adalah racikan suspensinya. Khas mobil Eropa, suspensi Renault terkenal sangat empuk namun tetap stabil (mature ride quality). Jika dibandingkan dengan mobil Jepang entry-level yang terkadang terasa limbung atau terlalu keras, Renault menawarkan kenyamanan berkendara yang jauh lebih superior di jalanan bergelombang.
Desain Anti-Mainstream
Bagi konsumen yang merasa bosan dengan dominasi Toyota Avanza, Honda Brio, atau Daihatsu Sigra yang “kembar” di setiap lampu merah, Renault adalah oase segar. Bahasa desain Renault yang stylish, futuristik, dan berbeda membuat pemiliknya tampil lebih menonjol dan eksklusif di jalan raya tanpa harus mengeluarkan biaya miliaran rupiah.
Kekurangan Renault di Indonesia
Menghimpun data dari sebaran lokasi dealer resmi dan keluhan umum konsumen di forum otomotif, aspek purna jual menjadi tantangan terberat bagi kepemilikan Renault di Indonesia. Calon pembeli wajib memahami risiko ini agar tidak kaget di kemudian hari saat masa garansi habis atau membutuhkan perbaikan darurat.
Jaringan Bengkel Terbatas
Berbeda dengan raksasa otomotif Jepang yang bengkelnya ada hingga ke tingkat kecamatan, jaringan dealer dan bengkel resmi Renault sangat sedikit dan mayoritas hanya terpusat di kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, atau Surabaya. Bagi pemilik yang tinggal di kota lapis kedua atau luar Jawa, melakukan servis rutin bisa menjadi perjalanan jauh yang merepotkan.
Isu Slow Moving Parts
Karena mayoritas unit yang dijual saat ini berstatus CBU (impor utuh) dari India, ketersediaan suku cadang tidak secepat mobil rakitan lokal. Suku cadang fast moving (filter oli, kampas rem) mungkin aman, namun untuk slow moving parts seperti komponen bodi (bumper, pintu) atau modul elektrikal tertentu, risiko indent (menunggu pesanan) bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga bulanan.
Biaya Perawatan
Meskipun harga beli mobilnya terjangkau, persepsi biaya perawatan mobil Eropa sering kali menghantui. Di bengkel resmi, biaya jasa dan parts terkadang sedikit lebih tinggi dibanding mobil LCGC. Selain itu, jika masa garansi habis, mencari bengkel spesialis non-resmi yang paham mesin Renault tidak semudah mencari bengkel umum biasa, sehingga menuntut pemilik untuk lebih proaktif mencari referensi teknisi.
Baca Juga: Renault Siap Bersaing di Segmen Kendaraan Listrik
Depresiasi Harga: Seberapa Jatuh Harga Jual Kembalinya?
Faktor depresiasi adalah “pil pahit” yang harus ditelan oleh pemilik mobil non-Jepang di Indonesia. Aspek ekonomi ini sangat krusial, terutama bagi Anda yang berencana menjadikan mobil sebagai aset jangka pendek atau menengah.
Analisis Pasar Mobil Bekas
Hukum permintaan dan penawaran berlaku kejam di sini. Ini karena populasi barunya sedikit dan keraguan masyarakat akan suku cadang, harga bekas Renault cenderung terjun bebas atau depresiasi tajam. Penurunan harganya bisa jauh lebih signifikan dibandingkan Honda atau Toyota yang harganya cenderung “tahan banting” di pasar sekunder.
Hal ini, menjadikan unit Renault sebagai uang tunai (likuidasi) tidaklah mudah. Tidak semua showroom mobil bekas bersedia menerima unit Renault karena dianggap slow moving unit (sulit laku). Seringkali, pemilik harus menjual langsung ke pemakai akhir (user to user) dengan harga yang harus rela “dibanting” agar cepat laku.
Contoh Perhitungan Penurunan Harga
Sebagai gambaran, Renault Triber atau Kwid yang baru berumur 2-3 tahun bisa kehilangan nilai hingga 30-40% dari harga barunya. Ini sangat kontras dengan mobil populer lain yang mungkin hanya terdepresiasi 15-20% dalam periode yang sama. Bagi pembeli mobil bekas, ini menjadi fenomena “harta karun”, tapi bagi pembeli mobil baru, ini adalah kerugian aset.
Estimasi Harga Renault Baru dan Bekas (Januari 2026)

Sesuai pricelist dealer dan pasar harga Renault bekas per Januari 2026, berikut adalah kisaran harga yang perlu Anda siapkan. Angka ini menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar antara harga baru dan harga bekas, yang mengonfirmasi tingginya depresiasi.
| Model Renault | Estimasi Harga Baru (OTR Jakarta) | Kisaran Harga Bekas (2022–2024) |
| Renault Kwid Climber | Mulai Rp161.000.000 | Sekitar Rp97.000.000 |
| Renault Triber (MT/AMT) | Mulai Rp187.900.000 | Rp88.000.000 – Rp99.000.000 |
| Renault Kiger (Turbo CVT) | Mulai Rp279.000.000 | Sekitar Rp140.000.000 |
Keputusan membeli Renault sangat bergantung pada profil Anda sebagai pengemudi. Jika Anda seorang hobiis yang mencari kenyamanan dan fitur maksimal dengan dana terbatas, serta tinggal di kota besar, Renault sangat layak dipertimbangkan. Namun, jika Anda pembeli pertama yang mementingkan kemudahan servis dan nilai jual kembali, sebaiknya pikir dua kali.
Siap berburu mobil idaman atau ingin menjual mobil lama Anda? Temukan ribuan pilihan mobil berkualitas atau pasang iklan mobil Anda sekarang juga hanya di OLX, pusat jual beli mobil terpercaya di Indonesia.






























