Insentif PPN mobil listrik berakhir per 31 Desember 2025. Bagaimana nasib harga dan arah industri otomotif di 2026? Simak hasil dialog strategis ICMS di sini.
OLX News – Setahun belakangan, angka pertumbuhan mobil listrik di Indonesia memang luar biasa. Bayangkan saja, sepanjang tahun 2025, pasar kendaraan listrik melonjak hingga 70 persen dengan total penjualan mencapai 175 ribu unit. Tren ini jelas dipicu oleh “pemanis” dari pemerintah berupa insentif pajak yang membuat harga jadi lebih bersahabat.
Namun, memasuki Februari 2026, muncul pertanyaan besar: Bagaimana nasib mobil listrik setelah beberapa insentif utamanya berakhir? Persoalan inilah yang dikupas tuntas dalam Dialog Industri Otomotif Nasional ke-5 yang digelar oleh Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) di JIExpo Kemayoran (10/2).
Baca juga:
Insentif Mobil Listrik Impor Cuma Sampai Akhir 2025, Tidak Bisa Jual Murah Lagi!
Babak Baru Tanpa PPN Ditanggung Pemerintah
Sejak 31 Desember 2025, kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah sebesar 10 persen serta pembebasan bea masuk untuk impor mobil listrik resmi berakhir. Artinya, secara teori, ada potensi penyesuaian harga jual di tingkat diler mulai tahun ini.
Meski begitu, para pengamat dan pelaku industri dalam diskusi tersebut melihat bahwa kondisi ini tidak perlu disikapi dengan panik. Beberapa poin penting yang perlu dicatat adalah:
- Pajak Lain Tetap Rendah: Insentif seperti PKB, BBNKB, dan PPnBM 0 persen masih dilanjutkan oleh pemerintah.
- Kepercayaan Konsumen Sudah Terbentuk: Masyarakat tidak lagi membeli mobil listrik hanya karena murah, tapi karena sudah mulai merasakan efisiensi dan kenyamanan teknologinya.
- Harga Baterai yang Makin Kompetitif: Secara global, biaya produksi baterai terus menurun, yang diharapkan bisa menyeimbangkan harga jual meski tanpa subsidi pajak sebesar dulu.
Baca juga:
Saat Insentif EV Mulai Berakhir, VinFast Tetap Perkuat Investasi di Indonesia
Suara dari Pelaku Industri
Dalam forum tersebut, perwakilan dari merek besar seperti VinFast, Geely, hingga Isuzu turut memberikan pandangan mereka. Davy Tuilan dari VinFast Indonesia, misalnya, menekankan pentingnya mempertahankan momentum pertumbuhan yang sudah mencapai 141 persen di segmen mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle).
Di sisi lain, diskusi ini juga mengingatkan bahwa industri otomotif bukan cuma soal mobil penumpang. Kendaraan niaga atau truk juga punya peran sangat krusial sebagai tulang punggung logistik kita. Penguatan di sektor ini tetap jadi prioritas agar harga barang-barang kebutuhan pokok tetap stabil melalui rantai distribusi yang efisien.
Apa Langkah Selanjutnya?

Munawar Chalil, Ketua Umum ICMS, menegaskan bahwa dialog ini bertujuan untuk mencari jalan tengah. Tujuannya jelas: agar target pemerintah mencapai 600.000 kendaraan listrik di tahun 2030 tidak terganggu meski ada perubahan kebijakan fiskal.
Bagi kita sebagai calon konsumen, tahun 2026 adalah fase “kedewasaan” pasar. Produsen kini ditantang untuk menghadirkan produk yang tetap menarik secara fitur dan harga tanpa harus melulu bergantung pada bantuan pemerintah.
Jadi, apakah ini waktu yang tepat untuk membeli? Keputusannya tetap ada di tangan Anda. Namun, dengan banyaknya pemain baru yang masuk ke pasar Indonesia belakangan ini, kompetisi harga di lapangan diprediksi akan tetap sengit, yang ujung-ujungnya akan menguntungkan pembeli. (DF)





































