Belakangan, pasar SUV di Indonesia memang semakin ramai. Pilihannya banyak, fiturnya makin lengkap, tampilannya pun kian modern. Namun di tengah semua itu, tidak banyak mobil yang benar-benar punya karakter kuat sejak pandangan pertama, lalu mampu menjaga kesan itu saat dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
GWM Tank 300 Diesel 4×4 termasuk salah satunya.
Sejak pertama melihatnya, SUV ini langsung memberi kesan berbeda. Bentuknya boxy, proporsinya tegak, dan auranya begitu kuat. Namun daya tarik Tank 300 ternyata tidak berhenti di penampilan. Setelah kami menggunakannya untuk aktivitas harian di Jakarta, dari berangkat ke kantor, menghadapi macet, sampai menemani perjalanan ke mall, lalu membawanya keluar kota menuju Purwakarta, area PLTA, hingga Parang Gombong, mobil ini menunjukkan bahwa karakter kuat tadi bukan sekadar kulit luar.
Di situlah Tank 300 mulai terasa menarik. Karena pengalaman yang ditawarkannya mengingatkan kami pada sensasi SUV lifestyle off road yang selama ini identik dengan nama seperti Jeep Wrangler. Bedanya, jika Jeep Wrangler di Indonesia kini bermain diatas 2 Miliar Rupiah, GWM Tank 300 Diesel secara resmi dibuka dari Rp598 juta untuk varian 4×2 hingga Rp658 juta untuk tipe 4×4 seperti unit yang kami test. Jarak harganya sangat jauh, tetapi rasa yang ditawarkan Tank 300 ternyata tidak terasa sejauh itu.
Desain yang punya karakter, tetapi tidak kehilangan daya tarik di tengah kota

GWM Tank 300 Diesel 4×4 adalah SUV yang sejak awal terlihat tahu ingin menjadi apa. Bentuk bodinya kotak, tegas, dan tidak berusaha tampil manis. Di tengah banyak SUV modern yang cenderung semakin membulat dan aman secara visual, Tank 300 justru memilih jalur yang lebih berani.
Menariknya, karakter seperti ini tidak membuatnya terasa canggung saat dipakai harian di Jakarta. Saat digunakan pergi ke kantor atau masuk area pusat perbelanjaan, Tank 300 tetap terasa pantas. Ia menonjol, tetapi tidak terasa dibuat-buat. Justru ada presence yang kuat, sesuatu yang tidak selalu dimiliki SUV lain yang secara harga lebih mahal.
Ketika kemudian mobil ini kami bawa keluar dari Jakarta menuju Purwakarta, lalu menyusuri area PLTA dan Parang Gombong, desainnya terasa makin relevan. Siluet boxy itu seperti menemukan latar yang tepat. Ia terlihat cocok dengan jalan yang mulai terbuka, kontur yang lebih beragam, dan suasana luar kota yang pelan-pelan terasa lebih hening. Ada mobil yang terasa paling pas di pusat kota. Tank 300 justru seperti mulai bicara lebih banyak saat kota mulai tertinggal.
Meski begitu, ada satu bagian yang menurut kami tetap menjadi titik paling subjektif, yaitu lampu depan. Di tengah bodi yang sudah sangat kuat, desain lampunya terasa sedikit kurang menyatu. Bentuknya memang unik, tetapi justru cenderung agak aneh dan kurang memberi efek wah. Ini tentu soal selera, tetapi tetap menjadi catatan karena hampir semua bagian lain dari desain Tank 300 justru terasa meyakinkan.
Kabin yang lega dan terasa matang untuk dipakai hidup bersama

Salah satu hal yang paling cepat terasa saat mobil ini mulai kami gunakan setiap hari adalah kualitas kabinnya. Tank 300 bukan hanya SUV yang terlihat gagah dari luar. Ia juga punya ruang dalam yang nyaman untuk ditinggali.
Secara dimensi, Tank 300 Diesel punya panjang 4.760 mm, lebar 1.930 mm, tinggi 1.903 mm, dan wheelbase 2.750 mm. Angka-angka itu langsung terasa pengaruhnya di dalam. Ruang duduknya lega, baik di depan maupun belakang, dan suasana kabinnya tidak terasa sempit. Untuk mobil yang kami pakai di tengah ritme Jakarta yang repetitif dan melelahkan, kualitas seperti ini penting karena membuat Tank 300 tidak cepat menguras energi pengemudi.
Posisi duduknya tinggi dengan visibilitas yang baik, membuatnya terasa commanding di tengah kemacetan. Saat dipakai stop and go menuju kantor, ini langsung terasa gunanya. Dan ketika kami membawanya menempuh perjalanan lebih panjang dari Jakarta ke Purwakarta hingga Parang Gombong, kelebihan kabin ini menjadi semakin penting. Mobil tetap terasa nyaman untuk dipakai berlama-lama.
Hal lain yang sangat kami sukai adalah UI design-nya. Ini salah satu kelebihan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi justru punya pengaruh besar dalam penggunaan harian. Antarmuka Tank 300 terasa matang, tidak berlebihan, tidak norak, dan tidak memaksa diri terlihat futuristis. Banyak mobil modern terlalu bersemangat ingin tampil canggih, sampai akhirnya justru melelahkan dipakai setiap hari. Tank 300 mengambil jalan yang lebih dewasa. Semuanya terasa rapi, mudah dipahami, dan menyenangkan untuk digunakan.
Mesin diesel yang kuat, tetapi tetap mudah dinikmati

Di balik kapnya, GWM Tank 300 Diesel 4×4 dibekali mesin diesel 2.4 liter dengan variable-geometry turbocharger, tenaga 135 kW atau 184 PS, dan torsi 480 Nm yang juga digunakan di varian Tank 500 Diesel. Tenaga itu disalurkan melalui transmisi otomatis 9 percepatan, dengan pilihan sistem penggerak 4WD dan 2WD. GWM sendiri menekankan karakter mesin dieselnya sebagai high torque and low consumption, dipadukan dengan transmisi 9AT yang dibuat powerful sekaligus smooth.
Dalam penggunaan nyata, karakter mesin ini memang terasa tepat untuk tubuh mobilnya. Torsinya besar, sehingga saat dipakai harian di Jakarta, Tank 300 tidak terasa berat atau malas saat harus bergerak pelan di tengah kemacetan. Ada rasa effortless yang membuat mobil ini surprisingly mudah dinikmati, meski dimensinya cukup besar.
Begitu keluar kota, karakter itu justru makin terasa pas. Saat perjalanan menuju Purwakarta dan kawasan sekitarnya mulai diwarnai tanjakan, jalan yang lebih terbuka, dan ritme berkendara yang lebih santai, mesin Tank 300 memberi dorongan yang padat dan tenang. Bukan tipe tenaga yang datang dengan ledakan dramatis, melainkan tenaga yang terasa penuh dan dewasa. Ia seperti tahu dirinya kuat, sehingga tidak perlu berteriak untuk membuktikannya.
Performa dan rasa berkendara yang menjadi titik jual utamanya

Kalau harus memilih satu alasan utama kenapa Tank 300 Diesel 4×4 layak diperhatikan, jawabannya ada di rasa berkendaranya.
Kami sudah memakainya dalam dua situasi yang sangat berbeda. Di Jakarta, ia kami gunakan untuk rutinitas yang benar-benar sehari-hari: berangkat kerja, menembus macet, bergerak lambat, lalu dipakai ke mall. Dalam skenario ini, Tank 300 ternyata tidak terasa terlalu merepotkan. Memang ia besar, tetapi bukan tipe mobil besar yang membuat pengemudi terus-menerus tegang. Posisi duduknya commanding, visibilitasnya luas, dan keseluruhan mobil terasa solid ditambah lagi mobil ini sudah dilengkapi oleh sistem ADAS yang lengkap jadi sangat memudahkan untuk dikemudikan di perkotaan yang padat.
Namun sisi terbaiknya mulai muncul saat dibawa keluar dari Jakarta. Dalam perjalanan menuju Purwakarta, kawasan PLTA, hingga Parang Gombong, Tank 300 memperlihatkan karakter yang lebih dalam. Duduk di balik kemudinya, melihat kap depan yang tinggi, merasakan tubuh mobil yang kokoh, lalu melaju menuju lanskap yang perlahan berubah lebih tenang, Tank 300 memberi pengalaman yang sulit dianggap biasa untuk kelas harga segini.
Di sinilah pembanding dengan Jeep Wrangler terasa masuk akal. Bukan karena Tank 300 adalah pengganti langsung Wrangler, dan bukan pula karena keduanya identik sepenuhnya, dan bukan juga mobil ini punya level “gengsi” yang sama dengan Wrangler. Namun ada irisan pengalaman yang nyata. Rasa bahwa kami sedang mengendarai SUV yang bukan cuma alat transportasi, melainkan kendaraan yang membawa suasana. Bedanya, Tank 300 menghadirkan irisan pengalaman itu di kisaran harga 600 jutaan, sementara Wrangler bermain di area premium diatas 2 Miliar Rupiah.
Detail seperti ban standar Continental CrossContact juga ikut membantu membentuk impresi itu. Grip-nya terasa meyakinkan, rasa mantap mobilnya terjaga, dan secara keseluruhan membantu Tank 300 tampil lebih matang sejak awal. Ini memang bukan headline utama di brosur, tetapi justru elemen seperti inilah yang sering membuat sebuah mobil terasa well built saat benar-benar dipakai.
Konsumsi BBM yang tetap masuk akal

Hal lain yang membuat Tank 300 terasa menarik adalah efisiensinya. Dalam pengujian kami menggunakan BBM Vivo Primus Diesel, konsumsi bahan bakar GWM Tank 300 Diesel ini berada di kisaran 1:10 untuk dalam kota dan 1:12 untuk luar kota.
Angka itu penting, karena Tank 300 bukan SUV kecil. Ia adalah SUV diesel ladder frame 4×4 dengan tubuh besar dan karakter yang kuat. Namun ternyata mobil ini masih mampu memberi efisiensi yang cukup rasional. Dalam konteks penggunaan kami, dari rutinitas harian di Jakarta sampai perjalanan keluar kota ke Purwakarta dan Parang Gombong, hasil ini membuat Tank 300 terasa bukan hanya menyenangkan, tetapi juga masuk akal untuk dipakai secara reguler.
Fondasi teknis GWM Tank 300 Diesel yang membuat identitasnya terasa sah

GWM Tank 300 Diesel 4×4 juga tidak hanya menjual tampang petualang. Secara resmi, mobil ini dibekali sistem 4 Wheel dan 2 Wheel Drive options, transmisi 9AT, suspensi double wishbone independent di depan, multi-link non-independent suspension di belakang, rear axle differential lock, 360 degree camera navigation, serta fitur off-road seperti crawl control dan electronically controlled differential lock pada axle depan dan belakang. GWM juga menonjolkan struktur bodi ultra-high-strength dan klaim 5-star ANCAP sebagai bagian dari paket keselamatannya.
Artinya, identitas offroad yang dibawanya memang ditopang pondasi yang benar. Ini yang membuat mobil terasa punya bobot, bukan sekadar aura. Bahkan saat belum dibawa ke jalur ekstrem sekalipun, Tank 300 sudah memberi rasa percaya diri bahwa ia punya kemampuan lebih dari yang dibutuhkan untuk pemakaian harian biasa.
Kekurangan yang tetap perlu dicatat
Sebagus apa pun impresi keseluruhannya, GWM Tank 300 Diesel 4×4 tetap bukan mobil tanpa catatan.
Yang pertama adalah desain lampu depannya yang menurut kami paling subjektif dibanding bagian lain dari mobil ini.
Yang kedua adalah penggunaan aki 92 Ah. Ini terasa sangat besar untuk kelasnya, dan dalam jangka panjang bisa membuat biaya penggantian lebih mahal serta pilihan subtitusinya lebih terbatas.
Yang ketiga adalah absennya headlamp washer. Untuk SUV yang membawa identitas off road cukup kuat, fitur ini sebenarnya akan terasa relevan, terutama bila mobil digunakan di jalur kotor atau berlumpur.
Kesimpulan

Setelah menggunakannya dalam rutinitas Jakarta dan membawanya keluar kota dari Jakarta menuju Purwakarta, area PLTA, hingga Parang Gombong, kami sampai pada satu kesimpulan yang cukup sederhana: GWM Tank 300 Diesel 4×4 adalah SUV yang terasa lengkap karena ia benar-benar versatile.
Ia bisa hidup di tengah macet Jakarta tanpa terasa menyiksa. Ia bisa dipakai ke kantor dan ke mall tanpa terasa berlebihan. Tetapi ketika akhirnya diajak pergi lebih jauh, ia juga bisa menunjukkan bahwa karakter terbaiknya memang belum habis dibaca di dalam kota.


































