Rabu, Agustus 5, 2026
Beranda blog Halaman 1717

5 Penyebab Lampu Utama Mobil Mati

0

Semua kendaraan pasti dilengkapi berbagai lampu dengan fungsi berbeda-beda, mulai untuk memberikan penerang jalan dan kabin, lampu mundur, sampai lampu peringatan.

Nah, dari sekian jenis lampu yang ada di mobil, lampu utama atau lampu penerang jalan tentunya tak kalah penting, karena membantu visibilitas pengemudi ketika di jalanan.

Namun begitu, bukan tak mungkin lampu utama ini bisa saja bermasalah seperti mati secara tiba-tiba, sehingga akan sangat bermasalah terutama ketika mengemudi di malam hari.

Karena itu, kali ini kita akan membahas beberapa penyebab lampu utama mobil mati, antara lain:

1. Lampu Bohlam Putus

Lampu bohlam putus atau bisa saja terjadi. Untuk mengeceknya bisa dilihat bagian filamen di mana ada kawat dan salah satunya putus, sehingga tak lagi bisa mengeluarkan cahaya.

2. Sekering Putus

Biasanya, sekering putus dikarenakan ada kabel yang terkelupas sehingga jeroannya atau bagian tembaga saling sentuh kemudian terjadi arus pendek atau korsleting di rangkaian lampu.  

3. Kabel Putus

Mirip dengan sekring putus, tapi kabel putus juga bisa saja terjadi, karena dimakan usia atau memang kualitas kabel kurang mumpuni.

Hanya saja, untuk mencari kabel putus ini cukup sulit juga dan harus diawali dari bagian soket. Jadi intinya cek secara teliti ya OLXer.

4. Salah Pemasangan 

Meski sangat simple, namun ternyata masih banyak pemilik mobil menganggap sepele memasang lampu bohlam dengan cara yang salah.

Oia, biasanya saat memasang bohlam lampu, kulit jari menyentuh langsung tabung lampu, yang biasanya membuat  kotoran atau minyak menempel. Lambat laun, kotoran tersebut membuat panas tidak merata sehingga bisa membuat bohlam pecah.

5. Kualitas Lampu

Lampu cepat putus juga bisa saja terjadi karena kualitasnya rendah. Karena itu jangan tergiur karena harga murah.

Sebaliknya, saat ini banyak jenis bohlam lampu kendaraan memberikan kualitas. Walaupun harganya bisa lebih mahal ya OLXer. (Her)

Urbanisasi Terus Meningkat, Pemerintah Kejar Pembangunan Rusun Murah di Kawasan Kota

0

Jakarta – Ada wacana pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk meningkatkan target pembangunan perumahan di daerah perkotaan dalam lima tahun ke depan. 

Diproyeksi hingga 2030 nanti penduduk Indonesia yang hidup di wilayah perkotaan akan mencapai sekitar 70 persen akibat terus meningkatnya urbanisasi. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan akan tempat tinggal dengan suplai rumah di perkotaan. 

“Kalau urbanisasi terus berlanjut, rumah tangga yang di perkotaan akan meningkat dan menuntut rumah-rumah yang dekat dengan perkotaan. Kita harus tingkatkan 20-30 persen penyediaan rumah di perkotaan,” kata Eko Djoeli Heripoerwanto Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR dalam sebuah Workshop Public Private Partnership (PPP) for Affordable Housing di Kementerian PUPR, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Permasalahan ini juga yang mendorong pemerintah mempercepat penyediaan rumah di perkotaan dengan harga yang terjangkau. Namun dengan keterbatasan lahan kota, paling memungkinkan adalah mayoritas membangun rumah susun.

Permasalahan lain selain kebutuhan lahan adalah anggaran yang dibutuhkan untuk mencapai target tersebut. Eko mengaku cadangan APBN hanya mampu menopang 20-30 persen dari total target pembangunan 3,9 juta unit. Dengan total investasi mencapai Rp 780 triliun. 

“Ketersediaan APBN hanya mampu mencukupi 30 persen, sisanya kita harapkan dari kerja sama dengan swasta,” ungkap Eko. 

Sehingga diperlukan alternatif pengembangan penyediaan perumahan melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Langkah itu harus dilakukan demi menambal sederet kekurangan. 

“Intinya dengan adanya skema KPBU ini maka gap, backlog bisa lebih dicapai pengurangannya dibandingkan skema yang konvensional ini,” imbuhnya. Pendanaan menggunakan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) menjadi terobosan baru untuk penyediaan rumah ke depan. 

Nah, kalau tidak mau menunggu lebih lama, mungkin penawaran properti disini bisa lebih mempercepat rencana Anda untuk memiliki property sendiri. (Z)

Alasan Mobil LCGC Harus Pakai Oli Khusus

0

Tak dapat dipungkiri segmen mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) dalam beberapa tahun terakhir terus menjamur. Harga yang terbilang lebih terjangkau ditambah ringannya uang muka dan cicilan perbulan jadi alasan mengapa segmen LCGC kian mudah dibeli masyarakat di Indonesia.

Hanya saja, semua mobil memiliki plus dan minus. Jika harga murah menjadi daya tarik  LCGC, namun mobil jenis ini disebutkan bisa juga mengalami masalah seperti penurunan performa mesin, entah itu karena suhu mesin panas atau bahan bakar. 

Karena itu, yang perlu OLXer tau jika memiliki mobil yang masuk golongan LCGC adalah rajin melakukan perawatan. Termasuk lebih peduli untuk memilih spesifikasi pelumas atau oli mobil yang tepat.

Hal inilah yang membuat perusahaan pelumas asal Inggris, Castrol, meracik oli khusus untuk LCGC dengan meluncurkan Castrol GTX Ultraclean. 

Menurut Country Marketing Manager PT Castrol Indonesia, Deananda Sudijono, mobil sekelas LCGC ada baiknya menggunakan pelumas dengan viskositas atau kekentalan rendah, sehingga sangat cocok memakai spesifikasi 5W-30.

Artinya, berdasarkan aturan Society of Automotive Engineers (SAE), Castrol GTC Ultraclean dengan spesifikasi 5W-30 memiliki kekentalan 5 pada temperatur dingin di musim dingin (Winter), dan kekentalan 30 pada temperatur 100 derajat celcius.

Castrol Luncurkan Pelumas GTX Ultraclean. (Herdi Muhardi)

Selain itu, alasan mengapa mobil LCGC harus pakai oli khusus, ternyata formula yang digunakan pada Castrol GTX Ultraclean dapat membersihkan lumpur dalam mesin yang dapat menghalangi saluran mesin oli, sehingga membantu mencegah pembentukan endapan baru berkat teknologi sintetisnya.

Tak hanya itu, karena formula yang ada pada oli terbaru Castrol ini juga dipercaya membantu dalam memperpanjang umur mesin kendaraan.

“Formula tersebut sudah terbukti memiliki kemampuan membersihkan 50 persen lebih baik dari standar industri dalam pengujian independen,” ujar Dea saat ditemui di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Rabu (7/8/2019).

Dengan formula ini pula, lanjut Dea, dengan kualitas oli mesin yang tepat maka akan memenuhi kebutuhan performa dan kenyamanan mobil LCGC.

“GTX Ultraclean didesain untuk mengatasi masalah-masalah yang kerap dialami oleh para pengemudi dengan mesin generasi baru LCGC di Indonesia seperti suhu yang panas, kualitas bahan bakar, serta kemacetan – berbagai hal seperti ini dapat menurunkan performa mesin,” ujarnya. 

Castrol GTX Ultraclean tersedia dalam ukuran yang tepat buat mesin LCGC yaitu kemasan 3.5 liter sehingga cukup pas. Adapun mobil LCGC yang ada di Indonesia, antara lain Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Toyota Calya, Daihatsu Sigra, Honda Brio Satya, Suzuki Karimun Wagon R, serta Datsun Go dan Go Hatchback. (Her)

Mobil LCGC Tak Lagi Terjangkau, Ini Kata Pemegang Merek

0

Pemerintah Indonesia berencana menaikan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) sebesar 3 persen untuk Kendaraan Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) atau yang kita kenal dengan Low Cost Green Car (LCGC).

Oia, kalau OLXer mau tau, mobil LCGC memang harganya dijual lebih terjangkau karena segmen ini  masuk dalam program pemerintah Indonesia, yang beberapa syaratnya harus dipenuhi, mulai dari mobil wajib di produksi di Indonesia, konsumsi bahan bakar 20 km/ liter  dan harganya diatur oleh pemerintah.. 

Tentu saja jika usulan pajak yang direncanakan naik 3 persen maka akan mengakibatkan beberapa mobil-mobil seperti Daihatsu Ayla, Toyota Agya, Honda Brio Satya, Suzuki Karimun Wagon R, Datsun Go dan Go Hatchback, serta Toyota Calya, Daihatsu Sigra harganya merangkak naik dan lebih mahal. Alhasil, KBH2 atau LCGC jadi tak pas lagi kalau disebut mobil murah. 

Adapun rencana pemerintah menaikan harga tiga persen mendapatkan beragam tanggapan dari sejumlah pelaku industri otomotif. Menurut Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), Fransiscus Soerjopranoto, kenaikan tersebut tidak serta merta masuk ke kantong pelaku perusahaan otomotif yang ikut dalam program pemerintah.

“Tapi harapan kita di APM (Agen Pemegang Merek) melihat harga LCGC tetap bisa dipertahankan. Kalau bisa sih (pajak) nol persen lebih baik, karena yang mendapatkan benefitnya bukan APM tapi konsumen,” ungkap pria yang akrab disapa Soerjo saat ditemui beberapa waktu lalu. 

Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra menyatakan karena pajak tiga persen dikenakan untuk seluruh brand, maka yang terjadi adalah kompetisi akan sama kondisinya.

“Tambahan pajak dibayar oleh konsumen. Jadi pasti memberatkan konsumen, yang tidak mampu jadi tidak bisa beli,” ucap Amel.

Kendati demikian, Amel sendiri punya harapan khusus, dimana dengan adanya segmen LCGC pasar otomotif akan tetap meningkat dan tembus di atas 1 juta unit.

“Karena yang penting GDP (Gross Domestic Product/ Produk Domestik Bruto) naik, daya beli naik, jadi pasar mobil juga naik,” katanya. 

Sedangkan menurut Direktur Pemasaran 4W PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Donny Saputra, meski LCGC mengalami kenaikan harga tiga persen namun hal tersebut diyakini pasar akan tetap positif, khususnya bagi Suzuki.

“Kita melihatnya masih positif kok, dalam artian walaupun naik menjadi tiga persen, program KBH2 mampu menstimulasi khususnya untuk first car buyer. Kalau dilihat PPNBM antara LCGC dan yang bukan seperti city car, kan sudah mendapatkan fasilitas dengan skema baru,” terangnya. 

Seperti diketahui, sejak program KBH2 atau LCGC hadir 2013 lalu, segmen ini faktanya mampu menyumbangkan penjualan cukup signifikan, yaitu mencapai 200 ribu unit per tahun sehingga pasar otomotif tembus 1 juta unit.

Mobil-mobil yang dibuat pabrikan pun tak hanya memiliki bentuk mungil dengan konfigurasi lima penumpang, tetapi juga tujuh penumpang yang cocok digunakan masyarakat Indonesia. (Her)

Alasan Mitsubishi Rajin Bangun Diler di Indonesia

0

Seakan tak ada hentinya, merek mobil Mitsubishi terus gencar menancapkan kuku bisnisnya dengan meresmikan sejumlah diler di sejumlah wilayah di Indonesia. Kali ini, perusahaan dengan logo tiga berlian menggaet PT Suryaputra Sarana meresmikan diler kendaraan penumpang dan niaga ringan di Indramayu, Jawa Barat, Kamis (8/8/2019).

Tentu saja, dengan berdirinya diler di Kota Mangga, Mitsubishi Indonesia yang berada di bawah payung PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) kini memiliki 141 diler di Indonesia. Sedangkan hingga tahun fiskal yang jatuh pada April 2020 mendatang, total jaringan diler Mitsubishi ditargetkan mencapai 153 unit.

Jumlah tersebut tidak dihitung dengan diler Fuso ya OLXer, karena secara garis besar kedua principal ini juga sudah berbeda. Nah, jika tak ada aral melintang Mitsubishi akan kembali mendirikan sejumlah diler untui kendaraan penumpang lagi di sejumlah wilayah di Nusantara.

Menurut Director of Sales & Marketing Division PT MMKSI Michimasa Kono, alasan Mitsubishi sering mendirikan diler karena semakin banyak produk yang dijual dan tentunya dapat menunjang mobilitas masyarakat di Indonesia.

“Bertambahnya jajaran produk Mitsubishi Motors di Indonesia, tentunya perlu didukung dengan layanan diler yang dapat memfasilitasi segala kebutuhan konsumen,” ungkap Michimasa saat ditemui di diler Mitsubishi Suryaputra Sarana, Indramayu.

Lebih lanjut Michimasa juga menyatakan, dengan adanya diler yang mudah dijangkau, maka hal itu dapat memberikan kemudahan kepada konsumen, sehingga dapat memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan layanan penjualan dan purna jual.

Ya, seperti diketahui, Mitsubishi memang kini menambah beberapa mobil terbaru, selain Pajero Sport, Xpander, Triton dan Outlander, di pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 telah meluncurkan produk terbaru yaitu Eclipse Cross dan mobil listrik  Outlander Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Seksinya Pasar Otomotif di Indramayu

Kondisi bengkel di dealer Mitsubishi uryaputra Sarana. (Dok Mitsubishi)

Berdiri di atas tanah seluas 1.994 meter persegi dengan total luas bangunan 1.523 meter persegi, diler terbaru yang berlokasi  di jalan Gatot Subroto No 503, Kabupaten Indramayu ini ternyata menghabiskan biaya hingga Rp 17,5 miliar.

Menurut Head of Sales & Dealer Management Region 1 MMKSI Tommy Adianto Indramayu sendiri menjadi area potensial. Pasalnya di wilayah ini banyak tumbuh industri kecil dan menengah, di samping sektor pertanian dan perkebunan.

Selain itu, wilayah karesidenan Cirebon (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) juga memiliki Iklim dunia usaha yang dinamis, serta adanya pembangunan sarana transportasi, seperti jalan tol dan bandara internasional Kertajati.

Kata dia, khusus di wilayah Indramayu sendiri pada Januari-Juni 2019, Mitsubishi Pajero Sport mendapatkan penerimaan positif dengan pangsa pasar sebesar 47 persen.

“Sedangkan Xpander berhasil meraih pangsa paras sebesar 26 persen, lalu kendaraan niaga ringan Mitsubishi L300 yang mendominasi dengan pangsa pasar sebesar 81 persen pada periode Januari – Juni 2019 di wilayah Indramayu,” terangnya.

Seperti diler Mitsubishi lainnya, Mitsubishi Suryaputra Sarana memiliki fasilitas lengkap, mulai dari display car, sales consultant dan sales lounge, sampai merasakan langsung impresi berkendara. (Her)

Toyota Siap Gandeng Pemerintah Kembangkan Mobil Listrik di Indonesia

0

Era mobil listrik di depan mata. Hal ini ditandai dengan sinyal Presiden RI Joko Widodo yang menyatakan sudah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) mengenai kendaraan listrik pada Senin (12/8/2019).

Dilansir situs Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, orang nomor satu di Indonesia itu mengatakan, 60 persen kunci mobil listrik ada di baterai, dan bahan untuk membuat baterai, kobalt, mangan dan lain-lainya itu ada di Indonesia.

“Sehingga strategis bisnis negara ini bisa kita rancang agar nanti kita bisa mendahului membangun industri mobil listrik yang murah, yang kompetitif karena bahan-bahan ada di sini,” jelas pria yang akrab Jokowi.

Nah, terkait dengan kebijakan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) di Indonesia, hal tersebut rupanya mendapatkan respon dari pelaku industri, tak terkecuali Toyota yang notabenenya siap menghadirkan mobil tanpa bahan bakar minyak di pasar nasional.

Toyota Prius PHEV. (Dok Toyota)

Bahkan menurut Executive General Manager Marketing Planning PT Toyota Astra Motor (TAM), Fransiscus Soerjopranoto, mengenai ditandatanganinya Perpres, maka ini akan menjadi landasan untuk pengembangan kendaraan listrik di Tanah Air.

“Semua Agen Pemegang Merek (APM) di Tanah Air, termasuk Toyota, pasti akan mendukung semua kebijakan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional,” ungkap Soerjo dalam pesan tertulisnya.

Kata Soerjo, Toyota sendiri berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah soal pengembangan kendaraan listrik yang tentunya sesuai dengan kondisi Indonesia.

“Sekarang ini kita mengenal beberapa jenis EV, diantaranya: Hybrid EV, Plug-In Hybrid EV, Battery EV, dan Fuel Cell EV. Pemahaman masyarakat mengenai kendaraan jenis EV perlu diperkuat agar masyarakat siap mengoperasikan secara aman mobil ramah lingkungan ini,” harapnya.  (Her)

Harga Mitsubishi Outlander PHEV Bakal Dijual Lebih Murah?

0

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) prihal mobil listrik. Dengan adanya perpres ini, mantan Gubernur DKI Jakarta  tak hanya tersebut ingin para pelaku industri otomotif segera merancang dan membangun industri mobil listrik di Indonesia, tetapi harga jualnya lebih murah. 

Pasalnya, pria yang akrab disapa Jokowi tak menampik harga mobil listrik saat ini hampir 40 persen lebih mahal dari mobil biasa. Alhasil dengan adanya Perpres bisa lebih terjangkau.

Seperti diketahui, sebelum Perpres ditandatangani, beberapa Agen Pemegang Merek (APM) sudah menghadirkan mobil berdaya listrik dan juga Hybrid. Terbaru, Mitsubishi turut meluncurkan produk teranyar, yaitu Outlander Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) beberapa waktu lalu.

Namun sayang, mobil listrik bergaya Sport Utility Vehicle (SUV) yang memiliki kombinasi mesin bensin dan motor listrik tenaga baterai ini dianggap masih cukup mahal, karena dibanderol dikisaran Rp 1,2 miliar sampai Rp 1,4 miliar.

Lantas apakah dengan di teken Perpres mobil listrik, harga Mitsubishi Outlander PHEV bakal dijual lebih murah?

Menanggapi hal tersebut, Director of Sales & Marketing Division PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Michimasa Kono menyatakan perlu mempelajari lebih detail.

“Saat ini karena saya tidak melihat isinya. Jadi kami harus mempelajari apa yang bisa kami lakukan dan tentu saja implementasinya membutuhkan waktu,” ungkap Michimasa usai meresmikan di dealer baru Mitsubishi Suryaputra Sarana di Indramayu, Jawa Barat, Kamis (8/8/2019).

Sedangkan saat ditanya soal apakah Outlander PHEV yang diproduksi di Thailand akan dipindahkan ke Indonesia dalam dalam 3-5 tahun ke depan untuk mendapatkan intensif sebagai syarat program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), pria asal Jepang ini juga menyatakan belum memiliki rencana.

“Sekarang kami enggak punya fix plan, karena keputusan ada di sisi MMC Jepang. Jadi kami saat ini tak bisa mengatakan apa-apa, karena konsiderasi ini sekarang di Jepang,” tuturnya.

Sekadar informasi, Outlander PHEV mengusung  mesin 2.400 cc yang mampu menyemburkan daya 99 Kw atau 132 Tk dengan torsi 211 Nm.

Sedangkan jika menggunakan motor listrik penggerak roda depan menghasilkan daya 60 kw dengan daya jelajah 45 kilometer dan penggerak roda belakang mengeluarkan daya 70 kw atau sekitar 93 Tk.

(Her)

Begini Agar Tampil Beda punya Motor Yamaha Lexi

0

Yamaha Lexi kini jadi salah satu skuter matik andalan pabrikan berlogo Garpu Tala di Indonesia. Sejak meluncur pada Januari 2018, keluarga Yamaha Maxi ini cukup menarik hati konsumen.

Namun kalau OLXer tak puas dengan tampang Yamaha Lexi, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) punya solusi, yaitu memberikan beberapa aksesori yang mempunyai beragam fungsi.

Menurut Deputy GM Marketing PT YIMM Yordan Satriadi, sepeda motor tak hanya jadi sebuah kendaraan, tetapi dengan penggunaan aksesori maka hal itu dapat tampil lebih bergaya. 

“Kami terus melengkapi aksesoris Lexi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Mereka ingin tampilan Lexi berbeda dan memanfaatkan fungsi aksesorisnya. Misalnya yang kami perkenalkan baru-baru ini yaitu cover front fork,” ungkap Yordan dalam keterangan tertulis, Jumat (9/8/2019).

Nah, salah satu aksesori yang ditawarkan adalah Cover Front Fork. Biasanya, aksesori ini disediakan Yamaha hanya untuk matik premium. Akan tetapi Cover Front Fork kini bisa didapatkan untuk Yamaha Lexi.

Aksesori Lexi, Front Fork. 

Adapun aksesoris tersebut dapat melindungi Front Fork dari bebatuan. Dengan begitu, tampilannya jadi terlihat lebih kokoh. 

Selain itu ada juga Low Down Seat. Aksesori ini didesain untuk membuat jarak pijak kaki pengendara ke tanah lebih rendah tiga cm (berdasarkan pengukuran langsung dengan model dengan tinggi badan 159 cm). 

Dengan mengusung konsep plug and play, maka aksesori ini  dapat langsung dipasang tanpa harus dimodifikasi.

Kemudian ada juga 30 L Top Box with Kit Case Support. Aksesori ini dapat digunakan menyimpan berbagai perlengkapan motor seperti helm full face, jaket, jas hujan, dan sebagainya. Serta dilengkapi juga dengan baseplate tombol pembuka. 

Ada juga Rear Carrier Shad. Aksesori ini dapat bermanfaat bagi konsumen yang membutuhkan kapasitas ekstra untuk penyimpanan in line. Yamaha merancang bracket top box khusus untuk unit Lexi dengan posisi di bagian belakang yang tetap nyaman karena tidak mengganggu posisi duduk penumpang.

Selain itu ada juga Backrest Shad. Aksesori ini tak hanya hanya untuk pengemudi tapi juga untuk penumpang. Tersedia aksesoris backrest yang berfungsi untuk memberikan kenyamanan ekstra bagi penumpang. 

Desainnya terintegrasi tanpa harus melepas handle pegangan untuk penumpang. Bahannya diklaim berkualitas dengan kursi standar, sehingga konstruksinya dapat menahan beban penumpang.

Selanjutnya ada juga USB Charger Kit. Dimana dengan aksesori ini dapat melakukan pengisian gadget lebih stabil karena dilengkapi kapasitas 2 ampere, kemudian LED Light Indicator. 

Charging port yang memberi kemudahan agar dapat melihat posisi port USB dengan jelas dalam keadaan gelap.

Berikut line up aksesoris Lexi yang bisa didapatkan di dealer-dealer Yamaha terdekat :

– Cover Front Fork

Harga : Rp 45.000 

Material : PA (Polyamide), (Nylon)

– Low Down Seat

Harga : Rp 240.000

Material : kulit sintetis 

– Yamaha 30 L Top Box with Kit Case Support

Harga : Rp 980.000

Capacity: 30 L

– Rear Carrier Shad

Harga : Rp 395.000

– Bracket Backrest Shad

Harga : Rp 390.000

– Back Rest Shad

Harga : Rp 450.000

– USB Charger Kit

Harga : Rp.110.000. (Her)

Mau Beli Mitsubishi Eclipse Cross Harus Sabar, Kenapa?

0

Mitsubishi Eclipse Cross memang jadi produk terbaru PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) selaku distributor resmi kendaraan Mitsubishi di Tanah Air. Meski sudah diluncurkan namun konsumen yang ingin punya mobil bergaya Crossover besutan Mitsubishi ini harus bersabar.

Lah, kenapa harus sabar ya? Padahal Eclipse Cross sudah resmi dihadirkan bertepatan dengan pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 lalu.

Menanggapi hal tersebut Director of Sales & Marketing Division PT MMKSI Michimasa Kono angkat bicara. Kata dia, lamanya pengiriman Mitsubishi Eclipse Cross akan dilakukan pada September 2019 mendatang.

“Jadi pada saat ini penjualan masih terhitung nihil, karena kami belum punya stok,” ungkap Kono saat ditemui  usai meresmikan di dealer baru Mitsubishi Suryaputra Sarana di Indramayu, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Kono sendiri tak menampik, bahwa lama pengiriman lantaran mobil tersebut diproduksi langsung di negara asalnya, yaitu Jepang.

Menurut Kono, antusias masyarakat Indonesia akan hadirnya Mitsubishi Eclipse Cross cukup positif. Bahkan selama pameran GIIAS yang berlangsung 18-28 Juli lalu setidaknya sudah 100 orang yang melakukan Surat Pemesanan Kendaraan (SPK).

 “Jumlah tersebut cukup bagus bagi kami,” singkatnya.

Kono juga memprediksi, orang Indonesia akan menyukai Eclipse Cross, apabila mobil yang pernah mendapatkan penghargaan Car of The Year di Jepang itu sudah beredar di jalanan Nusantara.

“Baru saat itulah orang-orang akan melihatnya dan menganggap mobil ini memiliki desain keren. Kemudian ketertarikan (Konsumen Indonesia) untuk membeli bertambah. Kami berekspektasi seperti itu,” ujarnya. 

Mitsubishi Eclipse Cross ini masih berstatus Completely Built Up (CBU) yang memiliki dimensi panjang 4.405 mm, lebar 1.805 mm,dan tinggi 1.685 mm, serta panjang sumbu roda 2.670 mm, dengan radius putar 5,3 meter. Untuk harga Mitsubishi Eclipse Cross On The Road DKI Jakarta, berikut daftarnya:

– Ultimate Amethyst Black Rp 478 juta

– Ultimate Silky White Rp 481 juta

– Ultimate Red Diamond Rp 483 juta.

Ban Serep Wajib Dibawa, Begini Cara Mudah Merawatnya

0

Ban serep atau ban cadangan jadi salah satu bagian yang wajib ada di dalam mobil. Tentu saja, ban cadangan bisa sangat bermanfaat ketika terjadi masalah pada ban mobil OLXer.

Bahkan keberadaan ban cadangan ini diatur pemerintah dengan ditetapkan dalam Pasal 57 ayat 3 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Ya, ban cadangan jadi perlengkapan wajib dibawa saat berkendara sama seperti keberadaan sabuk keselamatan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda, helm (pengendara motor), rompi pemantul cahaya (pengendara mobil), dan perlengkapan Peralatan Pertama pada Kecelakaan (P3K).

Sebaliknya jika OLXer mengabaikan pasal tersebut, maka akan dikenakan pasal 278  No 22 Tahun 2009 UU LLAJ, yang berbunyi:

“Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor beroda empat atau lebih di jalan yang tidak dilengkapi dengan perlengkapan berupa ban cadangan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda, dan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling paling banyak Rp 250 ribu”.

Tentu saja UU tersebut harus tetap dijalankan meskipun saat ini sudah ada pabrikan ban menerapkan teknologi Run Flat Tire (RFT), di mana ban dicap lebih kuat lantaran masih bisa melaju meski tertusuk paku.

Nah, balik lagi soal ban serep. Tak sedikit ban yang satu ini ternyata banyak diabaikan perawatannya. Padahal ban serep akan sangat penting jika terjadi masalah di perjalanan. 

Karena itu, ada baiknya ban serep juga selalu dilakukan pemeriksaan. Untuk pengecekannya tidak hanya sekedar melongok posisi keberadaan ban cadangan, tetapi juga harus dibersihkan dari kotoran, serta diperiksa tekanan anginnya. 

Ya, untuk melakukan pengecekan tekanan angin ban serep disarankan dilakukan sebulan sekali. Karena tekanan angin ban bisa berkurang, ada baiknya diisi kembali dan ukurannya disesuaikan seperti tercatat di dinding ban. Jika ban kempes, tentu saja akan tidak bisa digunakan ketika darurat.

Oia, OLXer juga jangan heran ya, kalau ban serep ini ukurannya lebih kecil dari pelek dan ban standar dari yang digunakan. Hal ini karena alasan untuk menghemat tempat penyimpanan.

Karena berstatus cadangan, tentu saja jika ketika mengalami masalah dan terpaksa mengganti ban standar dengan cadangan, maka ada baiknya setelah menemukan bengkel, ban standar diperbaiki atau diganti. Setelah itu, ban kembali dipasang, sedangkan ban cadangan disimpan kembali dan baru dipakai jika keadaan terdesak. (Her)