OLX News – Angka depresiasi mobil listrik yang kerap disebut menyentuh 30–40% dalam setahun membuat sebagian calon pembeli ragu melangkah. BYD Indonesia menilai narasi itu perlu ditaruh dalam konteks yang tepat: bukan semata karena kualitas produknya, melainkan pasar mobil bekas EV yang memang belum terbentuk di Indonesia.
“Kalau dilihat, BYD di Indonesia baru berjalan kurang dari dua tahun. First customer kita juga baru menerima unitnya belum sampai dua tahun, jadi wajar jika pasar secondary market-nya belum terbentuk. Tipikalnya, pembeli mobil bekas di sini masih konservatif, sehingga pedagang mengambil harga serendah mungkin,” jelas Luther Panjaitan, Head of Marketing PR & Government Relation dalam sesi doorstop di tengah acara BYD Atto 1 Media Test Drive di Jogja, Rabu (13/8/2025).
Luther membandingkan situasi EV hari ini dengan transisi tren transmisi manual ke matik beberapa tahun lalu. “Dulu, transmisi otomatis tidak populer, kini kondisinya berbalik. Jadi ini hanya soal masa transisi saja,” ujarnya.
Baca Juga: Masih Takut Pakai Mobil Listrik? Ini 4 Mitos yang Harus Kamu Tau!
Artinya, kurva harga EV bekas saat ini lebih banyak dipengaruhi psikologi pasar dan infrastruktur ekosistem yang masih bertumbuh, bukan semata kemampuan produk.
Mengapa Depresiasi EV Terlihat Lebih Curam?
Secara global, pasar EV memang melewati “re-pricing” setelah ledakan pasokan dan penyesuaian harga model baru. Beberapa laporan mencatat penurunan nilai EV bekas yang tajam di pasar matang seperti AS dan Inggris, dipicu kombinasi diskon unit baru, banjir unit off-lease, dan percepatan siklus teknologi (range, efisiensi, fitur). Data media internasional menunjukkan penurunan harga EV bekas (bahkan Tesla) melampaui mobil ICE di periode 2024–2025.
Di Indonesia, persoalannya berbeda. Secara demand EV tumbuh, namun minat pada mobil listrik (EV) bekas masih dini. Hanya sekitar 20% konsumen yang tertarik membeli mobil listrik bekas, dengan kekhawatiran utama pada isu degradasi baterai (55%), potensi kerusakan tersembunyi (53%), dan minimnya jaminan (45%). Data ini ditukil dari PWC.com tahun lalu.
Garis besarnya: di pasar mobil listrik bekas yang belum matang, pedagang cenderung mematok harga beli konservatif. Ini membuat spread harga terkesan curam, bukan karena EV intrinsik lebih “cepat rusak”, melainkan mekanisme harga di pasar yang baru tumbuh.
Respons BYD: Bangun Pasar, Jaga Kompetisi Sehat

Menjawab kekhawatiran calon konsumen terkait hal ini, BYD memfokuskan dua hal. Pertama, membantu membentuk pasar EV bekas bersama jaringan dealer. Kedua, menjaga kompetisi harga antardealer tetap sehat, agar tidak terjadi “banting harga” yang memukul nilai jual kembali.
“Kami dan partner dealer sedang mempersiapkan cara agar secondary market ini terbentuk cepat dan sesuai harapan. Yang penting, kompetisi antardealer tetap healthy. Kalau ada banting-banting harga, resale value akan drop dan itu berdampak ke keberlanjutan bisnis,” tegas Luther.
Secara praktis, pendekatan ini biasanya mencakup standarisasi inspeksi EV bekas, jaminan kualitas, hingga opsi trade-in terstruktur. Ketika ekosistem certified pre-owned EV terbentuk, pembeli bekas akan lebih percaya diri, pricing power kembali ke produk, dan kurva depresiasi menjadi lebih “normal”.
Faktor Teknis: Garansi Baterai & Teknologi Turunkan Kekhawatiran

Di tengah kekhawatiran “baterai cepat rusak”, sebagian besar merek pemain utama EV menawarkan garansi baterai panjang. Hyundai di Indonesia, misalnya, memberikan garansi baterai 8 tahun/160.000 km (mana yang tercapai lebih dulu).
Wuling juga memberi garansi baterai 8 tahun/120.000 km untuk Air ev, dengan jaminan komponen utama kelistrikan hingga 5 tahun dan biaya perawatan berkala yang rendah.
Sementara BYD secara global menerapkan kebijakan garansi baterai hingga 8 tahun (ketentuan kilometer bervariasi menurut pasar), mencerminkan keyakinan terhadap daya tahan teknologi Blade Battery (LFP) yang dikenal stabil dan aman.
Poinnya, jaminan pabrikan ikut menekan risiko depresiasi karena menambah “nilai jangka panjang” yang rasional di mata pembeli bekas.
Beli Mobil Listrik “Lebih Rugi”?
Dalam jangka sangat pendek, EV bisa terlihat lebih volatil: harga unit baru mudah dikoreksi (diskon), teknologi berkembang cepat, dan pasar bekas masih cari bentuk. Namun dalam jangka pakai normal (5–8 tahun), faktor biaya operasi rendah, garansi baterai panjang, dan stabilnya teknologi LFP membuat total biaya kepemilikan (TCO) EV kompetitif.
Masalah besar hari ini bukan soal “EV cepat rusak”, melainkan kurangnya referensi harga dan mekanisme penjaminan mutu di pasar bekas lokal. Ketika standar inspeksi, buyback terstruktur, hingga kanal trade-in resmi kian mapan, depresiasi EV akan mendekati kurva yang lebih rasional.
Baca Juga: 5 Keunggulan Mobil Listrik BYD Atto 1 Premium
BYD menempatkan diri pada dua jalur: edukasi pasar dan penguatan jaringan. Edukasi menyasar mitos baterai dan TCO; jaringan dealer menyiapkan fondasi secondary market yang terstandarisasi.
“Kami belum bisa banyak komentar soal angka pasti di pasar mobil bekas karena market-nya belum terbentuk. Fokus kami membangun mekanisme yang sehat agar harga tidak ‘rusak’ oleh kompetisi yang tidak sehat,” kata Luther.
Strategi ini sejalan dengan praktik global: pabrikan dan dealer yang mengkurasi EV bekas (uji SOH baterai, pembaruan software, garansi tambahan) cenderung mempertahankan nilai lebih baik. Langkah itu mengurangi “diskon ketidakpastian” yang selama ini membebani harga beli pedagang atau pembeli bekas.
Depresiasi Mobil Listrik Bukan Vonis, Tetapi Sebuah Fase
Pada akhirnya, depresiasi EV bukan vonis, melainkan fase. Pasar Indonesia, termasuk pembiayaan, trade-in, dan edukasi teknis, sedang bergerak ke arah yang lebih matang. Dengan membangun secondary market yang sehat dan kompetisi harga antardealer yang terjaga, strategi BYD menargetkan kurva nilai jual kembali EV yang stabil dan berkelanjutan.
Dan ketika pasar bekas EV Indonesia benar-benar terbentuk, diskursus akan bergeser: dari “EV turun harga cepat” menjadi “EV mana yang nilai jualnya paling terjaga?”. Di sanalah kualitas produk, garansi, dan ekosistem purna jual akan bicara. (Z)




































