Puasa Tarwiyah & Arafah menjadi momen penting untuk meraih pahala besar di bulan Dzulhijjah. Intip keutamaan, niat, dan tata caranya di sini.
OLX News – Puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan amalan sunnah yang dikerjakan pada hari-hari istimewa di bulan Dzulhijjah. Keduanya memiliki keutamaan yang diyakini mampu meningkatkan kualitas ibadah. Pelaksanaannya juga menjadi bentuk persiapan spiritual menjelang Hari Raya Idul Adha.
Memahami asal-usul dan ketentuan di balik kedua puasa sunnah ini tentu menjadi langkah awal sebelum melaksanakannya. Dengan begitu, ibadah dapat dilakukan secara penuh kesadaran dan sesuai tuntunan.
Maka dari itu, artikel ini akan membahas latar belakang, landasan hukum, niat puasa hingga tata cara melakukan puasa Tarwiyah dan Arafah.
Latar Belakang Puasa Tarwiyah dan Arafah

Di antara amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah, puasa Tarwiyah dan Arafah menjadi amalan istimewa yang sering dilakukan. Tidak sedikit yang ingin memahami dalil yang menjadi dasar pelaksanaannya.
Adapun ulasan latar belakang kedua puasa sunnah ini lengkap dengan dalil yang harus diketahui sebagai berikut.
Sejarah dan Mengenal Apa Itu Puasa 10 Hari Pertama Dzulhijjah
Sejarah melaksanakan puasa 10 hari pertama Dzulhijjah berakar dari besarnya pahala amal shalih untuk melakukan amal ibadah pada bulan Dzulhijjah, apalagi Dzulhijjah termasuk diantara empat bulan yang dimuliakan Allah SWT (asyhurul hurum).
Adapun puasa pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam berdasarkan tuntunan hadits. Kesunahan ini berlaku secara umum, baik bagi mereka yang sedang menunaikan ibadah haji maupun yang tidak.
Hanya saja, menurut Imam an-Nawawi, khusus tanggal sembilan Dzulhijjah (puasa Arafah) hanya disunnahkan bagi yang tidak menunaikan ibadah haji. Berikut keterangan Imam Nawawi sebagaimana dikutip Syekh Zakariya al-Anshari (w. 1520 M) dalam kitab Asnal Mathalib:
وَصَرَّحَ فِي الرَّوْضَةِ بِاسْتِحْبِابِ صَوْمِ الْعَشْرِ غَيْرِ الْعِيْدِ وَلَمْ يَخُصَّهُ بِغَيْرِ الْحَاجِّ فَيُسْتَحَبُّ صَوْمُهُ لِلْحَاجِّ وَغَيْرِهِ إِلَّا يَوْمَ عَرَفَةَ فَلِغَيْرِ الْحَاجِّ
Artinya: “Imam Nawawi dalam kitab Raudhah menjelaskan kesunnahan puasa sepuluh hari selain hari raya dan tidak dikhususkan bagi selain yang menunaikan haji, maka sunnah puasa sepuluh hari pertama bagi yang menunaikan haji maupun tidak, kecuali hari Arafah maka khusus untuk yang tidak menunaikan haji,” (Syekh Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2013], juz 3, halaman 63).
3 Pandangan Mengenai Penamaan Hari Tarwiyah
Mengutip pernyataan Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib, dijelaskan bahwa setidaknya ada tiga pandangan mengenai hari kedelapan bulan Dzulhijjah ini dinamakan tarwiyah.
Pertama, Nabi Adam merenung saat membangun Ka’bah di hari tersebut. Konon, Nabi Adam ketika diperintah untuk membangun sebuah rumah sempat berpikir dan menanyakan pemikirannya itu.
“Tuhanku, sesungguhnya setiap orang yang bekerja akan mendapatkan upah, maka apa upah yang akan saya dapatkan dari pekerjaan ini?” tanya Nabi Adam.
“Ketika engkau melakukan thawaf di tempat ini, maka aku akan mengampuni dosa-dosamu pada putaran pertama thawafmu,” demikian Allah SWT merespons pertanyaan Nabi Adam.
Mendengar jawaban tersebut, Nabi Adam memohon tambahan upah. Kemudian, Allah menjawab:
“Saya akan memberikan ampunan untuk keturunanmu apabila melakukan thawaf di sini”. Namun, Nabi Adam kembali memohon tambahan upahnya.
Allah menjawab: “Saya akan mengampuni (dosa) setiap orang yang memohon ampunan saat melaksanakan thawaf dari keturunanmu yang mengesakan (Allah)”.
Kedua, Nabi Ibrahim merenung setelah bermimpi diperintah untuk menyembelih anaknya di hari tersebut. Saat pagi tiba, ia menimbang-nimbang, apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan?
Malam berikutnya, ia kembali bermimpi akan hal yang sama. Di saat itulah, Nabi Ibrahim menegaskan bahwa mimpi tersebut betul-betul datang dari Allah SWT.
Ketiga, orang yang melaksanakan haji merenung akan doa-doa yang hendak dipanjatkan pada hari Arafah. Pandangan-pandangan itu dilandasi atas makna tarwiyah, yaitu berpikir atau merenung.
Oleh karena itu, di hari Tarwiyah, terjadi peristiwa identik dengan keadaan berpikir dan merenung tentang peristiwa yang masih dipenuhi keragu-raguan.
Makna Hari Arafah dan Hubungannya dengan Ibadah Haji
Secara filosofis, hari Arafah dimaknai oleh sebagian ulama sebagai hari i’tiraf atau pengetahuan. Pendapat lain menyebutkan bahwa Arafah berasal dari kata arafa yang berarti aroma harum sebagai simbol kesucian jiwa setelah bertaubat.
Hari Arafah juga merupakan momen puncak ibadah haji di mana seluruh jamaah berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf. Keberadaan jamaah di tempat ini pada tanggal 9 Dzulhijjah menjadi inti penentu sah atau tidaknya rangkaian haji seseorang.
Adapun wukuf di Arafah melambangkan miniatur Padang Mahsyar yang menyetarakan kedudukan seluruh manusia di hadapan Allah SWT. Jemaah haji melepaskan segala atribut duniawi dan fokus memohon ampunan serta rahmat-Nya dalam suasana yang penuh kesakralan.
Dalil Puasa Tarwiyah dan Arafah
Dalil mengenai puasa Tarwiyah dan Arafah terdapat dalam Qur’an dan hadits. Inilah yang kemudian menjadi pegangan atas kesunnahan dua puasa tersebut. Adapun penjabaran dalil lengkapnya akan dibahas di bawah ini.
Landasan Hukum Berdasarkan Hadits Shahih
Hari Tarwiyah dan Arafah menjadi sangat penting dan perlu dipahami oleh semua umat Islam. Tentang keutamaan dan keagungannya, kedua hari tersebut mempunyai nilai yang sangat besar di sisi Allah. Terbukti dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
وَّالشَّفْعِ وَالْوَتْرِۙ (الفجر: 3)
Artinya: “Demi yang genap dan yang ganjil.” (Al-Fajr: 3)
Syekh Abu Hafs Umar bin Ali bin ‘Adil Ad-Dimisyqi mengutip pendapat Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ yang berpendapat, maksud ayat di atas adalah hari Tarwiyah dan hari Arafah. Dalam kitabnya disebutkan:
قَالَ ابْنُ عَبَّاس (الشَّفْعِ) يَوْمُ التَّرْوِيَةِ وَعَرَفَةَ (وَالْوَتْرِ) يَوْمُ النَّحْرِ
Artinya: “Ibnu Abbas berkata: (Maksud ayat) wassyaf’i yaitu hari Tarwiyah dan hari Arafah, dan maksud ayat wal watri, yaitu hari kurban.” (Abu Hafs Ad-Dimisyqi, Al-Lubâb fi Ulûmil Kitâb [Bairut, Dârul Fikr: 2005), juz III, halaman 418).
Adapun sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW bahwa Allah menjanjikan ampunan dosa kecil selama dua tahun, yaitu satu tahun sebelum dan satu tahun setelah pelaksanaan puasa. Selain itu, maknanya mencakup pemberian taufik dari Allah agar hambanya terjaga dari perbuatan maksiat di masa depan.
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Artinya: “Dari Abu Qatadah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab: “Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim No. 1162)
Penjelasan Ulama Mengenai Kesunnahannya
Dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (jilid 6, halaman 428), Imam Nawawi menegaskan bahwa puasa Arafah (9 Dzulhijjah) disunnahkan bagi mereka yang tidak sedang berwukuf di Arafah (tidak sedang berhaji).
Adapun Imam al-Khatib al-Syirbini menyebutkan dalam Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh al-Minhaj bahwa hukum puasa ini adalah sunnah bagi siapa pun, baik yang sedang berhaji maupun tidak.
Meski memiliki perbedaan pendapat, namun pendapat yang kuat terdapat dalam mazhab Syafi’i, yakni makruh puasa Arafah bagi orang yang sedang berhaji jika hal itu melemahkannya untuk beribadah (wukuf/doa).
Jadwal Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026
Mengetahui jadwal Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 memudahkan umat Muslim mempersiapkan puasa sunnah pada hari-hari utama Dzulhijjah. Penetapannya bergantung pada rukyatul hilal dan kalender hijriah resmi. Untuk lebih jelas, berikut uraian lengkapnya.
Kapan Puasa Tarwiyah 8 Dzulhijjah Dilaksanakan?
Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah, tepat dua hari sebelum perayaan Hari Raya Idul Adha. Merujuk Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Kementerian Agama (Kemenag), Hari Raya Idul Adha diprediksi jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Oleh karena itu, puasa sunah Tarwiyah dapat dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026.
Kapan Puasa Arafah 9 Dzulhijjah Dilaksanakan?
Sementara itu, Puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Zulhijah, yaitu satu hari sebelum perayaan Hari Raya Idul Adha. Dengan begitu, umat Islam dapat melaksanakan puasa sunah Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026. Namun, jadwal pastinya masih menunggu putusan sidang isbat.
Baca juga: Niat Puasa Idul Adha, Tata Cara, dan Doa Puasa Idul Adha
Bacaan Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah
Umat Muslim biasanya mempelajari bacaan niat puasa sunnah ini agar dapat menjalankannya dengan benar sesuai tuntunan. Meskipun sederhana, niat tetap menjadi bagian penting dalam ibadah puasa. Adapun lafal niatnya lengkap dengan bahasa arab, latin dan artinya sebagai berikut.
1. Niat Puasa Tarwiyah (Lengkap Arab, Latin, dan Arti)
Lafal Niat Puasa Tarwiyah Siang Hari
نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah hari ini karena Allah Ta’ala.”
2. Niat Puasa Arafah (Lengkap Arab, Latin, dan Arti)
Lafal Niat Puasa Arafah Siang Hari
نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i arafata sunnatan lillahi ta’ala
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah Ta’ala.”
Tata Cara Pelaksanaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Tata cara pelaksanaan puasa Tarwiyah dan Arafah penting dipahami agar ibadah ini sesuai dengan tuntunan yang dianjurkan. Meskipun termasuk puasa sunnah, ada beberapa adab dan langkah dasar yang perlu diperhatikan. Adapun tata cara lengkap yang harus diketahui sebagai berikut.
Langkah-Langkah Menjalankan Puasa Sunnah yang Benar
Mengetahui langkah-langkah menjalankan puasa sunnah yang benar penting agar lebih optimal. Pemahaman ini membantu menjalankan puasa dengan benar sejak awal. Untuk lebih jelas, berikut tahapan lengkapnya.
- Pastikan Tanggal: Puasa Tarwiyah jatuh pada 8 Dzulhijjah dan Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
- Niat: Meniatkan diri karena Allah SWT dan niat juga boleh dilakukan di dalam hati atau dilafalkan.
- Keabsahan Niat: Berbeda dengan puasa wajib, niat puasa sunnah boleh dilakukan setelah fajar (pagi hari) selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa sejak subuh.
- Suci dari Haid: Khusus bagi wanita, harus dalam keadaan suci dari haid dan nifas.
Ketentuan Sahur, Menahan Diri, dan Waktu Berbuka
Melaksanakan sahur, menahan diri, dan berbuka menjadi pedoman utama yang mengatur jalannya puasa. Pemahaman yang tepat membuat ibadah lebih terarah. Adapun ketentuan yang perlu diperhatikan sebagai berikut.
- Sahur: Sangat dianjurkan (sunnah) untuk makan sahur sebelum waktu Subuh sebagai sumber energi.
- Imsakiyah: Berhenti makan dan minum saat masuk waktu fajar (Azan Subuh).
- Menahan Diri: Menjaga lisan, perbuatan, dan hati dari hal yang membatalkan pahala puasa (seperti ghibah atau marah) serta hal yang membatalkan puasa (makan, minum, hubungan suami istri).
- Waktu Berbuka: Segera berbuka ketika matahari terbenam (Azan Maghrib).
- Menu Berbuka: Disunnahkan berbuka dengan yang manis (seperti kurma) atau air putih sebelum menyantap makanan berat.
Doa yang Bisa Dibaca Saat Puasa Tarwiyah dan Arafah
Puasa Tarwiyah dan Arafah identik dengan amalan doa yang dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan. Doa-doa ini menjadi pelengkap ibadah agar semakin sempurna. Adapun beberapa doa yang perlu diketahui sebagai berikut.
- Doa Sapu Jagad
اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Allāhumma rabbanā ātinā fid duniya hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār.
Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”
- Doa Memohon Ampun
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
Rabbana faghfirlana dzunubana wa kaffir ‘anna sayyiatina wa tawaffana ma’al abrar.
Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, tutupilah aib-aib kami (hapuskanlah kesalahan kami), dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang shalih/berbakti.”
- Dzikir Tauhid
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syay’in qadir.
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Apa Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Kedua puasa sunnah ini memiliki keutamaan yang menjadikannya sangat dianjurkan bagi umat Muslim. Amalan ini dipercaya memberikan manfaat besar bagi jiwa dan amal seseorang. Adapun keutamaannya akan diulas lebih lengkap sebagai berikut.
1. Menghapus Dosa Setahun yang Lalu dan Setahun Mendatang
Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Keterangan ini didasarkan pada satu hadits Rasulullah SAW, yang artinya, “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) bisa menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim dalam Shahih Muslim).
2. Harapan Terkabulnya Doa di Waktu Mustajab
Nabi Muhammad SAW dalam hadis riwayat At-Tirmidzi no. 3585 menegaskan bahwa sebaik-baik doa adalah doa yang dipanjatkan pada hari Arafah. Keutamaan ini bersifat umum, baik bagi jemaah haji maupun umat Muslim yang sedang berpuasa di rumah, sebagai waktu paling mustajab untuk memohon hajat.
3. Pembebasan dari Siksa Api Neraka
Menurut hadis Riwayat Muslim no. 1348, Aisyah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda tidak ada hari di mana Allah membebaskan lebih banyak hamba dari api neraka selain pada hari Arafah.
Ibnu Rajab Al-Hambali juga menjelaskan bahwa pembebasan ini mencakup mereka yang berwukuf maupun kaum Muslim di seluruh dunia yang menghidupkan hari tersebut dengan ketaatan.
4. Meneladani Ketakwaan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW
Sejarah puasa sunnah ini erat kaitannya dengan momen Nabi Ibrahim mulai merenungkan makna mimpinya pada hari Tarwiyah hingga meyakininya sebagai perintah Allah pada hari Arafah.
Menjalankan puasa ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap ketaatan Nabi Ibrahim sekaligus mengikuti tuntunan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Niat Puasa Qadha Ramadhan: Arab, Latin, dan Artinya
Hukum Fiqih Terkait Puasa Dzulhijjah
Pemahaman hukum fiqih tentang puasa Dzulhijjah diperlukan agar ibadah yang dijalankan sesuai ketentuan syariat. Beberapa aturan dan pandangan ulama biasanya menjadi dasar dalam menetapkannya. Adapun hukumnya yang wajib diketahui sebagai berikut.
Hukum Menggabungkan Puasa Arafah dengan Qadha atau Nazar
Sayyid Bakri dalam kitab I‘anatut Thalibin menjelaskan bahwa orang yang melaksanakan puasa qadha atau nazar pada hari-hari yang dianjurkan tetap akan mendapatkan keutamaan puasa sunnah di hari tersebut. Hal ini otomatis didapatkan meski seseorang tidak secara khusus memasukkan niat puasa sunnah dalam niatnya.
“Di dalam Al-Kurdi terdapat nash yang tertulis pada Asnal Mathalib dan sejenisnya yaitu Al-Khatib As-Syarbini, Syekh Sulaiman Al-Jamal, Syekh Ar-Ramli bahwa puasa sunnah pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk puasa memang dimaksudkan untuk hari-hari tersebut. Tetapi orang yang berpuasa dengan niat lain pada hari-hari tersebut, maka dapatlah baginya keutamaan,” tulis Ustadz Alhafiz mengutip keterangan Sayyid Bakri.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa menggabungkan puasa Arafah dengan qadha atau nazar hukumnya sah menurut mayoritas ulama melalui konsep tasyrik an-niyyah (penggabungan niat).
Namun, sangat dianjurkan untuk mendahulukan penggantian puasa wajib (qadha) atau nazar terlebih dahulu agar tanggung jawab kepada Allah segera tertunaikan sebelum mengerjakan amalan sunnah.
Apakah Harus Puasa Dzulhijjah 10 Hari Penuh?
Puasa pada awal bulan Dzulhijjah tidak wajib dilakukan selama 10 hari penuh karena hari ke-10 merupakan hari raya Idul Adha yang dilarang untuk berpuasa.
Umat Muslim sangat dianjurkan menjalankan puasa sunnah dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah sebagai bentuk optimalisasi ibadah di waktu yang mulia.
Hal ini didasari pada hadits riwayat At-Tirmidzi bahwa tidak ada hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain 10 hari pertama Dzulhijjah, di mana satu hari puasa di dalamnya maka setara dengan setahun berpuasa.
Selain itu, satu malam yang dihidupkan dengan shalat pada periode tersebut memiliki keutamaan yang setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar.
Amalan Sunnah Lainnya di Hari Tarwiyah dan Arafah
Selain puasa sunnah, hari Tarwiyah dan Arafah juga dianjurkan untuk diisi dengan berbagai amalan tambahan. Amalan ini membantu memaksimalkan nilai ibadah di dua hari utama tersebut. Adapun amalan sunnah lainnya yang bisa dilakukan sebagai berikut.
- Membaca Al-Qur’an: Memperbanyak tadarus dan merenungi makna ayat-ayat suci.
- Berdoa di Waktu Mustajab: Berdoa secara intens, khususnya pada sore hari Arafah menjelang matahari terbenam, karena saat itu doa sangat dikabulkan.
- Shalat Sunnah: Meningkatkan kuantitas shalat sunnah seperti Tahajud, Dhuha, dan shalat Rawatib.
- Bersedekah: Memberikan bantuan materi kepada fakir miskin atau mereka yang membutuhkan untuk berbagi kebahagiaan.
- Silaturahmi: Menjalin hubungan baik dengan keluarga dan kerabat sebagai bentuk amal saleh.
- Mempersiapkan Hewan Kurban: Bagi yang mampu, hari-hari istimewa ini adalah waktu yang tepat untuk memastikan kesiapan hewan kurban yang akan disembelih pada 10 Dzulhijjah atau hari Tasyrik.
Itulah pentingnya memahami niat puasa, jadwal, hingga tata cara pelaksanaan puasa Tarwiyah dan Arafah sebagai bekal dalam memaksimalkan amalan di hari-hari utama bulan Dzulhijjah.
Ingin update informasi lain seputar otomotif, lifestyle, dan teknologi? Kunjungi OLX News dan download aplikasi OLX di Google Play Store atau App Store sekarang!






























