Jumat, Agustus 7, 2026
Beranda blog Halaman 1715

Mitsubishi New Triton dan Pajero Sport Sanggup Minum Solar Biasa

0

New Mitsubishi Triton hadir dengan tampilan lebih menyegarkan. Ubahan pada pikap double cabin ini membuat  tampilannya lebih canggih dan modern.

Selain itu, pada bagian dapur pacu, New Triton juga dianggap memiliki mesin bandel, lantaran masih sanggup menggunakan bahan bakar solar biasa.

Hal ini pula diungkapkan langsung Direktur Penjualan dan Pemasaran PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Irwan Kuncoro saat acara Engineered Beyond Tough Experience di sirkuit Pagedangan Offroad Park, BSD, Tangerang Selatan, Kamis (15/8/2019).

“Triton ini juga sudah digunakan di Indonesia, dan bahan bakar solar biasa dan itu tidak masalah,” ungkap Irwan.

Menurut Irwan, mesin New Triton sama digunakan seperti pada Pajero Sport. Menariknya, mobil Pajero Sport diesel yang juga digunakan di sejumlah wilayah di Indonesia sanggup minum bahan bakar dengan kualitas kurang baik, atau solar biasa.

“Dan itu terbukti tidak ada masalah, dan itu pengalaman Pajero Sport,” ucapnya.

Sementara itu, Irwan juga menyatakan bahwa New Triton dan Pajero Sport bisa juga menenggak solar yang dicampur minyak sawit sebesar 20  persen atau Biodiesel (Solar B20).

Bahkan kata Irwan, Mitsubishi saat ini tengah melakukan pengujian bahan bakar solar B30. Hasil pengujian juga dilakukan seluruh model Mitsubishi yang menggunakan mesin diesel.

Seperti diketahui, mesin diesel New Triton khususnya tipe Ultimate, Exceed, GLS dan GLX sama dengan Pajero Sport yaitu mengusung teknologi Mitsubishi Innovative Valve Timing Electronic Control System (MIVEC) berkode mesin 4N15, diesel kapasitas 2.4 liter, turbo yang dilengkapi, intercooler dan common rail. Dengan mesin ini, New Triton diklaim mampu menghembuskan daya hingga 181 Tk pada 3.500 rpm dan torsi 430 Nm pada 2.500 rpm.

Nah berikut daftar harga New Mitsubishi Triton:

1 Ultimate AT Double cab 4WD Rp 480,5 juta

2 Exceed MT Double cab 4WD Rp 453  juta

3 GLS MT Double cab 4WD Rp 419 juta

4 HDX MT Double cab 4WD Rp 395,5 juta

5 HDX MT Single cab 4WD Rp 338 juta

6 GLX HR MT Single cab 2WD Rp 250,5 juta. (Her)

Solusi Hilangkan Getar Saat Mengemudi Pasca Ganti Pelek

0

Modifikasi kaki-kaki mobil seperti pada bagian pelek sah-sah saja OLXer. Bahkan, penggunaan pelek dengan ring lebih besar dari standar bisa menambah kesan gagah dan macho.

Hanya saja, jika mengganti pelek aftermarket ada baiknya memperhatikan faktor lainnya termasuk kenyamanan dan keselamatan.

Nah, berikut ini ada cara penting yang perlu diterapkan jika mengganti pelek mobil. Ya, cara tersebut adalah dengan menambahkan center ring.

Seperti diketahui, center ring ini perlu dipasang agar pelek bisa bertumpu secara presisi dan mengisi celah kosong antara lubang tengah pelek dan center hub as roda. 

Biasanya center ring ini dipasang di bagian tengah diantara baut PCD, dan bagian tengah ini disebut center bore. 

Kenapa harus dipakai? Hal ini karena pelek standar bawaan pabrikan pada bagian center bore sudah sesuai dengan hub roda. 

Lain halnya dengan pelek aftermarket, di mana lubang tengah dibuat universal atau lebih besar dibandingkan pelek bawaan pabrikan, agar bisa banyak dipakai di berbagai mobil.

Center ring ini memang sangat kecil, bahkan harganya tidak terlalu mahal. Namun bagian ini tak boleh disepelekan. 

Jika mobil yang sudah disematkan center ring, biasanya akan lebih nyaman jika dikendarai dalam kecepatan tinggi. Lain halnya pelek aftermarket tanpa center ring, dimana getaran akan terasa di atas 70-80 km/jam dan berbahaya karena pelek hanya bertumpu pada baut roda.

Belum lagi jika menghantam lubang, maka akan getarannya akan sangat lebih terasa. Jika ditambah bobot mobil, bukan tak mungkin bautnya bisa patah atau lepas sehingga terjadi hal yang tak diinginkan.

Oia, ukuran center ring setiap mobil bisa berbeda, tergantung ukuran poros roda dan lubang tengah pelek aftermarket yang OLXer pakai. Jadi pastikan ukurannya pas ya! (Her)

Toyota Cari Orang IT Terbaik, Begini Cara Daftarnya

0

Indonesia siap menghadapi era revolusi 4.0, dimana nantinya sebuah manufaktur menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber, serta memanfaatkan sistem cyber-fisik, internet of things (IoT), komputasi awan, hingga komputasi kognitif.

Revolusi industri 4.0 ini nyatanya juga diimplementasikan Toyota Indonesia. Namun, untuk menghadapi era ini, Toyota punya cara berbeda dalam menerapkannya, yaitu melibatkan masyarakat dengan menggelar kompetisi khususnya bagi mereka yang berminat dan berbakat di bidang Information Technology (IT).

Menurut Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy, kompetensi di bidang IT merupakan program Toyota Fun/Code dan diharapkan menjadi salah satu kunci utama untuk salah satunya merebut peluang bisnis di era industri 4.0.

“Toyota Fun/Code menantang peserta untuk menguji kemampuan mereka dengan membangun atau menciptakan aplikasi yang bisa memberi nilai tambah kepada pelaku industri otomotif dan pelanggan. Pesan utama kegiatan ini adalah menantang peserta untuk mengeksplorasi potensi diri mereka, untuk meraih peluang di era industri 4.0,” jelas Anton saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta.

Adapun gelaran yang mengusung tema “Fun, Futuristic, Informative”  menantang peserta untuk mengeksplor kreativitas dalam membangun aplikasi yang mampu memberikan nilai tambah lebih kepada masyarakat dan pelaku industri otomotif, termasuk Toyota.

Untuk ikut dalam Toyota Fun/Code, peserta individual maupun tim akan diuji kemampuannya sebagai IT Developers dalam menghasilkan aplikasi sesuai tema yang ditetapkan Toyota yaitu Eco Driving, Education, Ownership Experience, Value Chain & Trade-in serta Disability.

Untuk menjadi bagian IT Developers, peserta akan diuji keahliannya di bidang programmer, graphic designers, interface designers, dan project manager.

Adapun beberapa tema yang disebutkan di atas memiliki tujuan masing-masing, seperti:

Eco Driving, diharapkan peserta dapat mengembangkan aplikasi atau inovasi teknologi berbasis web yang bisa meningkatkan kemampuan pengemudi agar efektif, efisien, dan ekonomis. Aplikasi ini akan berdampak positif terhadap penurunan emisi CO2 atau environmental sustainability.

Education, diharapkan akan muncul aplikasi seperti safety driving apps atau safety driving gamification untuk membuat mengemudi menjadi lebih aman dan menyenangkan.

Ownership Experience diharapkan dapat mendorong peserta dalam membangun aplikasi yang akan meningkatkan pengalaman penggunaan kendaraan sehari-hari menjadi lebih mudah, lebih aman, nyaman, dan memudahkan orang untuk memiliki kendaraan dan layanan Toyota baik sebelum membeli maupun sesudah pembelian (after sales service).

Value Chain & Trade-in mengarahkan peserta membuat aplikasi yang mendukung penyatuan atau sistem integrasi pelayanan mulai dari saat konsumen memilih kendaraan, saat memiliki kendaraan, sampai saat menjual atau menukar kendaraannya, termasuk dalam soal pembiayaan dan asuransi.

Disability diproyeksikan akan muncul aplikasi atau web yang bisa memudahkan mobilitas penyandang difabel seperti saat parkir atau mengakses tempat-tempat tertentu, misalnya seperti toilet.

Tema ini menjadi salah satu bagian terpenting karena merupakan wujud semangat Toyota untuk selalu menyediakan kendaraan terbaik bagi semua, termasuk kalangan difabel.

Di tempat yang sama Executive General Manager PT TAM, Fransiscus Soerjopranoto mengatakan, melalui berbagai sub tema dalam kegiatan Toyota Fun/Code ini, diharapkan akan lahir aplikasi unggulan yang menjadi inovasi bisnis otomotif.

“Melalui ajang kompetisi ini akan lahir para start up untuk menginspirasi generasi muda lainnya dalam menghadapi tantangan era industri 4.0,” tuturnya. 

Rencananya, kompetisi ini akan diawali dengan workshop di tiga kota, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Puncak acara adalah Hackaton Day yang akan berlangsung selama 24 jam penuh di November mendatang.  Bagi peserta yang tertarik bisa mendaftar di sini.

Seberapa Menarik Mitsubishi Triton di Indonesia?

0

New Mitsubishi Triton memang sudah resmi diluncurkan di Indonesia melalui PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) selaku distributor resmi kendaraan penumpang Mitsubishi di Tanah Air. Tampilannya yang sangat berubah khususnya versi double cabin membuat bentuknya terlihat lebih keren dan modern.

Namun OLXer tau nggak, ternyata mobil pikap yang sudah ada sejak 40 tahun lalu jumlahnya cukup banyak, karena telah dipakai 4,9 juta unit di seluruh penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia, Triton ada sejak 17 tahun lalu atau sekitar 2001 dan populasinya mencapai 80 ribu unit tersebar di seluruh Nusantara.

Menurut Presiden Direktur PT MMKSI Naoya Nakamura, berdasarkan data penjualan Triton di Indonesia  terbesar tiga dunia, setelah Thailand dan Australia. Di Indonesia, Mitsubishi Triton dengan penggerak empat roda menyumbangkan market share sebesar 65 persen. Hal ini pula membuat Triton diklaim sebagai rajanya pikap 4×4.

“Penerimaannya sangat baik. Bahkan selama 2019 kontribusinya mencapai 65 persen, dimana 95 persen berasal dari model 4×4 dan sisanya, 5 persen, dari model 4×2,” ujar Nakamura saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dengan bentuknya yang menarik, mobil kabin ganda ini nyatanya memang bukan mobil untuk perkotaan. Sebaliknya, dengan desain yang tangguh, Triton banyak disukai di sejumlah wilayah seperti Kalimantan dengan penetrasi pasar 40 persen, lalu beberapa Sumatera 30 persen. Sedangkan untuk Jakarta sendiri hanya 15 persen.

Siapa peminatnya? Jelas mobil ini banyak disukai sejumlah perusahaan khususnya pasar fleet yang kontribusinya mencapai 90 persen dan sisanya segmen semi-fleet dan private.

Meski begitu, Direktur Divisi Penjualan dan Pemasaran PT MMKSI Irwan Kuncoro mengatakan, untuk New Triton targetnya cukup realistis yaitu 900-1.000 unit perbulan. Angka ini tak terlalu ngoyo karena secara umum market secara otomotif kini sedang mengalami penurunan.

“Jadi dengan angka penjualan segitu (900-1.000 unit), market share kami saja sudah naik, dari 60 persen, kemudian 62 persen, 63 persen sampai 65 persen,” ungkap Irwan.

Kalau OLXer memang doyan petualang, yang mau ajak keluarga atau kerap bawa barang sepertinya menggunakan Triton generasi kelima ini cukup diandalkan, karena mobil ini sudah mendapatkan peningkatan pada durabilitas hingga kenyamanan dan peningkatan fitur keamanan.

Sejarah Singkat  Mitsubishi Triton

Mitsubishi Forte, nenek moyang Triton. (Wikipedia)

Oia, sedikit sejarah singkat Mitsubishi Triton. Ternyata, sebelum ada nama Triton. Mobil double cabini ini memiliki banyak nama. Lihat saja, pada generasi pertama yang hadir di era 1978-1986, nama mobil bukan Triton, melainkan Forte, yang mengusung mesin 4G32 berkapasitas 1.6 liter dan mampu menghasilkan daya 90 Tk.

Masuk 1987-1996, generasi kedua Mitsubishi Triton muncul, hanya saja nama mobil ini cukup banyak panggilannya mulai dari Mitsubishi L200, Mitsubishi Mighty Max sampai Mitsubishi Strada.

Sebelum ada nama Triton, mobil tersebut diberi nama L200 sampai Strada. (Wikipedia)

Pada tahun itu, mobil ini sudah menggunakan mesin diesel 2.5 liter bertenaga 68 hp atau turbo diesel 84 PS (62 kW) dan mesin bensin karburator 2.0 liter bertenaga 92 Tp atau 2.6 liter bertenaga 109 Tk.

Masuk generasi ketiga atau sekitar 1996-2005 Triton kembali mengalami perubahan. Model yang ini jadi perdana masuk pasar Indonesia. Hanya saja namanya kala itu bukan Triton melainkan L200 Strada. Untuk jantung pacunya Mitsubishi membenamkan mesin 2.5L bertenaga 103 Tk.

Pada 2005-2015 muncul Triton terbaru. Oia, di generasi keempat atau tiga tahun setelah peluncurannya sekitar 2008 penggantian nama dari L200 Strada menjadi Strada Triton. 

Di generasi keempat atau tiga tahun setelah peluncurannya sekitar 2008 penggantian nama dari L200 Strada menjadi Strada Triton. 

Saat itu pula, mobil ini dibuat sepenuhnya oleh Mitsubishi Thailand dan diekspor ke 140 negara termasuk Indonesia dengan menggunakan mesin 2.5L turbo diesel bertenaga 134 Tk atau 180 Tk.

Nah, pada 2015 – sekarang hadir Mitsubishi Triton generasi kelima. Pada tahun ini pula Mitsubishi menghilangkan nama Strada dan menjadi hanya menyebutkan Triton. Di 2019 ini, Mitsubishi kembali melakukan ubahan secara tampilan yang lebih segar.

Alasan Jalan LRT Dibuat Melayang

0

Masyarakat di kota-kota besar pasti kerap melihat banyak dibangun fasilitas umum seperti jalan raya hingga Light Rail Transit (LRT) dibuat melayang.

Bahkan saat ini banyak proyek pembangunan dengan pemandangan sejumlah tiang yang terlihat menjulang tinggi. Tak terkecuali di wilayah Ibu Kota.

Seperti halnya dari arah Bekasi dan sebaliknya, serta Cibubur dan sebaliknya banyak berderet tiang-tiang di samping jalan tol terlihat yang nantinya akan digunakan moda transportasi LRT.

Oia, bagi sebagian orang ada juga yang punya rasa penasaran, kenapa proyek fasilitas umum seperti jalan raya atau LRT dibuat melayang, tidak sejajar dengan tanah seperti jalan raya atau rel kereta, atau di bawah tanah seperti Mass Rapid Transit (MRT) dari Senayan hingga Bundaran Hotel Indonesia.

Nah menurut Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Ridwan Djamaluddin, alasan tidak dibangun sejajar dengan tanah, karena tidak efisien, termasuk akan berdampak dengan terhambatnya taia terjadi kemacetan ketika ada persimpangan jalan raya atau rel kereta.

“Tujuannya mengurangi kepadatan lalu lintas kalau banyak perlintasan sebidang nanti salah satu LRT terhambat atau lalu lintas jalannya terhambat,” ungkap Ridwan seperti dilansir situs dishub.jakarta.go.id.

Sebaliknya, Ridwan mengatakan, adanya LRT dengan menggunakan tiang atau jalur melayang maka hal itu dipercaya dapat mengurangi kepadatan lalu lintas.

Lantas bagaimana jika LRT dibuat di bawah tanah atau underground?

Usut punya usut, jika LRT di bawah tanah, maka yang terjadi yaitu biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih mahal dan pertimbangan teknis jika dibandingkan di dengan sejajar tanah atau di bawah tanah.

“Selain biaya, sama masalahnya seperti membangun MRT, informasi bawah permukaan kita kurang lengkap, mesti di survey. Kan harus digali, ada kabel, saluran air macam-macam,” jelasnya. (Her)

Alasan Harga Mobil Premium di Indonesia Mahal Banget

0

Tak hanya sepeda motor, mobil juga jadi moda transportasi yang banyak digunakan masyarakat di Indonesia. Akan tetapi tak sedikit yang merasa untuk mempunyai mobil impian seperti mobil keluaran Eropa atau Jepang yang masuk segmen premium dijual dengan harga mahal.

Apalagi untuk jenis mobil premium, yang jenis lebih luas, termasuk mobil bermesin listrik dan juga hybrid, harganya cukup tinggi dibandingkan dengan mobil bermesin konvensional yang mengkonsumsi bahan bakar minyak.

Nah, bicara soal mobil dengan harga mahal ini ternyata ada banyak faktornya OLXer. Menurut Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto harga mobil yang melonjak naik juga disebabkan karena pajak.

“Yang paling besar tentunya Pajak Penjualan atas Barang Mewah atau PPnBM sekitar 40 persen,” ungkap Soerjo dalam pesan singkatnya.

Bahkan menurut Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Barang Mewah, besaran pajak yang dikenakan untuk setiap kelompok mobil juga berbeda, mulai dari 10 persen, 20 persen, 30 persen, 40 persen, 50 persen, 60 persen dan 75 persen.

Selain PPnBM, lanjut Soerjo, harga mobil yang melambung tinggi juga bisa dikarenakan Bea Balik Nama (BBN) yang saat ini di kisaran 10 persen sampai 12,5 persen, kemudian pajak Pertambahan Nilai (PPn) sebesar 10 persen.

Mobil biasa dan mewah juga memiliki bea masuk barang impor antara 10-50 persen. Belum lagi jika kapasitas mesin di atas 3.000 cc, seperti mesin supercar yang berkubikasi 5.000 cc bisa dikenakan pajak mencapai 125 persen.  

Oia, jenis pajak yang ditetapkan bisa karena mobil premium di Indonesia dijual secara utuh atau completely built up (CBU). Karena itu, untuk menekan harga, biasanya pabrikan mengakalinya dengan cara berinvestasi membangun pabrik perakitan di Indonesia atau memang sengaja memproduksi bagian-bagian mobil dari A sampai Z dengan harapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih tinggi sehingga mendapatkan insentif dari pemerintah.

Kebijakan soal penentuan pajak ini memang bisa saja naik atau juga turun, tergantung regulasi yang dikeluarkan dari pejabat pemerintah.

Tapi perlu dicatat juga, selain karena regulasi, harga mobil premium menjadi mahal bisa karena faktor lain seperti nilai tukar mata uang rupiah, ongkos tenaga kerja di luar cukup tinggi, ongkos kirim dengan memperhitungkan jarak, lalu bisa juga karena kualitas, teknologi, sampai fitur yang dibenamkan pada satu mobil.

Selain itu, brand atau merek juga perlu diperhitungkan. Karena tak dapat dipungkiri beberapa brand memiliki imej yang dikenal menciptakan mobil-mobil mewah, spesial dengan kualitas nomor wahid sehingga harganya melambung tinggi.

Tapi ke depan, mobil listrik tak lagi mahal OLXer, karena Presiden Joko Widodo sudah menandatangani Peraturan Presiden RI Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Untuk mengetahui bagaimana hitungan pajak mobil listrik tunggu tautan selanjutnya. (Her)

Esemka Bima Tantang Pikap Jepang dan China, Sanggup?

0

Jakarta – Akhirnya merek mobil Esemka tidak bisa dibilang merek mobil siluman lagi. Melalui PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) mobil Esemka bakal dijual di Indonesia. 

“Model pertama yang akan dipasarkan adalah pikap dengan nama Esemka Bima,” ujar Eddy Wirajaya, Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (13/8/2019). 

Nantinya Esemka Bima ditawarkan dalam dua pilihan mesin 1.200 cc dan 1.300 cc.

Pikap Esemka Bima siap dijual di Indonesia (Sumber Foto: IDNTimes)

Mobil pikap ini juga bakal ditawarkan dengan harga murah. Harganya tidak akan lebih dari Rp 150 juta. Lebih jauh Eddy menyebut fokus pendistribusian Esemka Bima dilakukan di daerah pinggiran untuk membantu perekonomian di sana.

Namun jujur saja, dengan harga tersebut (Rp 150 juta) tidak bisa dibilang murah, apalagi untuk sekelas Esemka yang benar-benar baru merambah pasar mobil light commercial vehicle (LCV).

Beberapa merek lainnya yang sudah lebih dulu ada menawarkan produk pikap dengan harga yang tidak terlalu jauh dengan harga yang disebutkan oleh Eddy.

Sebagai contoh, sebut saja Daihatsu Gran Max pikap bermesin 1.300 cc dan Rp 1.500 cc. Mobil ini dijual dengan harga mulai Rp 132,9 juta sampai Rp 165 juta.

Malah Daihatsu punya Hi Max bermesin 1.000 cc yang dijual mulai Rp 106 juta sampai Rp 114 juta. 

Penantang Esemka Bima juga datang dari pabrikan Jepang lainnya yakni Suzuki Carry. Malah boleh dibilang inilah penantang terberat. Datang dengan status “Rajanya Pikap” Carry menguasai sebagian besar market share mobil pikap di Indonesia. 

Suzuki Carry dengan mesin 1.500 cc dijual mulai Rp 135,6 juta sampai Rp 145,1 juta.

Paling dekat mungkin Esemka Bima bisa berkompetisi dengan pikap merek DFSK yang menawarkan dua jenis mesin, Super Cab dengan mesin diesel 1.300 cc dan mesin bensin 1.500 cc. Harganya mulai dari Rp 129 juta hingga Rp 150 juta. 

Lalu apakah dengan strategi harga tersebut, Esemka Bima mampu bersaing dengan merek pikap lainnya? Apalagi kalau yang dikedepankan adalah isu nasionalisme. Patut dicatat, Esemka bukan merek mobil nasional. 

“Kami bukan mobil nasional, tetapi produksi mobil di Indonesia. Jadi jangan salah persepsi, mobil nasional kan cukup luas,” jelas Eddy. 

PT SMK merupakan manufaktur swasta nasional, di mana mobil yang dibuat adalah pure racikan dan diproduksi di Indonesia, tepatnya di Boyolali, Jawa Tengah. 

Itu artinya, SMK akan sama seperti merek mobil lainnya yang juga memiliki pabrik di Indonesia, tanpa special treatment dan prosesnya juga dilakukan dari hulu ke hilir dilakukan di Tanah Air. (Z)

Urusan Toyota Lebih Mudah dengan Hadirnya 11 Outlet Baru Auto2000

0

Jakarta – Menjadi persoalan paling serius saat OLXer punya mobil tapi berdomisili di kota kecil atau lokasi terpencil. Urusan servis rutin menjadi kendala karena harus menempuh perjalanan jauh menuju kota besar mencari bengkel resmi.

Pengalaman seperti ini banyak dialami pemilik mobil Toyota di daerah Sangata, Kalimantan Timur. Untuk servis saja, harus melakukan perjalanan sejauh 65 km menuju Auto2000 Bontang.

Tapi sekarang sudah tak perlu lagi OLXer. Pemilik mobil Toyota disana sekarang sudah bisa menikmati layanan aftersales Auto2000 cabang Sangata.

Auto2000 Sangata menjadi satu dari sebelas cabang baru Auto2000 yang dibuka baru-baru ini.

Sepuluh cabang Auto2000 lainnya baru dibuka juga di Cikampek, Kuningan, Pandeglang, Tulungagung, Jombang, Pasuruan, Singosari Malang, Tenggarong, Sekayu dan Cikarang Utara.

Peresmian sebelas cabang baru Auto2000 ini dilakukan serentak dengan pusat grand opening di Auto2000 Cikarang Utara, hari Rabu (14/8/2019).

Kini, Auto2000 sebagai diler resmi Toyota terbesar di Indonesia sudah punya 126 cabang yang tersebar di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Terdiri dari outlet V (Vehicle) yang melayani jual beli kendaraan, outlet VSP (Vehicle Service Part) yang melayani jual beli dan servis kendaraan, serta outlet VSP+BP (Vehicle Service Part + Body Paint) yang sanggup melayani jual beli, servis mobil, perbaikan, dan pengecatan bodi kendaraan.

“Pertumbuhan pasar yang sangat menjanjikan di berbagai wilayah di Indonesia, memacu Auto2000 untuk melebarkan sayap dengan membangun cabang baru guna memenuhi kebutuhan penjualan mobil Toyota di berbagai wilayah, terutama daerah tingkat 2 yang terus tumbuh perekonomiannya. Outlet baru juga terkait dengan komitmen untuk memberikan kemudahan servis kendaraan Toyota,” sambut Martogi Siahaan, Chief Executive Auto2000.

Peresmian 11 outlet baru Auto2000 berlangsung di Auto2000 Cikarang Utara (Sumber Foto: Auto2000)

Layanan One Stop Service Auto2000 Cikarang Utara 

Auto2000 Cikarang Utara dibangun di atas lahan seluas 7.400 m2 dengan luas bangunan 2.800 m2. Fasilitas bengkel dilengkapi dengan 16 stall produksi, dimana 2 diantaranya merupakan stall Express Maintenance. 

Sama dengan cabang lainnya, Auto2000 Cikarang Utara telah dilengkapi fungsi one stop service terlengkap dan termodern meliputi layanan penjualan kendaraan, bengkel perawatan dan perbaikan umum, serta penjualan suku cadang dengan kualitas layanan bermutu dan bergaransi.

Beberapa fasilitas lainnya yang ada seperti ruang pamer yang luas, ruang tunggu dan negosiasi yang dilengkapi layanan food & beverage corner, ruang VIP, ruang pencatatan servis yang modern dengan mengedepankan penggunaan teknologi terkini sehingga menciptakan layanan yang lebih personal, mudah, dan cepat, serta kids corner yang memastikan anak-anak merasa nyaman ketika orang tuanya sedang bertransaksi. 

Semua fasilitas disajikan sesuai standard spesifikasi outlet Toyota dan berlaku sama di seluruh cabang Auto2000. 

Dengan kelengkapan fasilitas yang ada, outlet baru Auto2000 ini menargetkan penjualan sebanyak 100 unit per bulan untuk kendaraan penumpang Toyota.

“Kami semakin dekat dengan pelanggan sehingga pemilik mobil merasa tenang, aman dan nyaman memiliki mobil Toyota. Ini sejalan dengan konsep layanan kami yakni ‘Auto2000 Lebih’ dengan tagline ‘Urusan Toyota Lebih Mudah’,” pungkas Martogi. (Z)

Collaborative Robot (Cobot) Bisa Tingkatkan Produktivitas Manufaktur Sampai 85 Persen

0

Jakarta – Tak bisa dipungkiri bahwa industri otomotif di Indonesia memiliki daya tarik bagi perusahaan teknologi robot global. Tujuannya untuk membantu terciptanya proses produksi yang lebih efektif dan efisien.

Salah satu pemain robot global yang tertarik untuk melebarkan sayapnya di Tanah Air adalah Universal Robots. Perusahaan teknologi robot asal Denmark ini mencoba menyasar pabrikan kendaraan bermotor roda empat di Indonesia, yang terus berevolusi untuk mengimplementasikan industri 4.0, memanfaatkan teknologi robot dalam proses produksinya. 

Sakari Kuikka, General Manager Universal Robots menjabarkan kondisi industri manufaktur di Indonesia yang memanfaatkan teknologi robot, rasionya masih sangat rendah, 5 robot per 10 ribu karyawan.  Artinya 5 robot dioperasikan oleh 10 ribu karyawan.

“Negara lain rasionya lebih tinggi, seperti Singapura yang memiliki rasio 658 robot per 10 ribu karyawan. Bahkan rata-rata dunia rasio penggunaan robotnya 85 per 10 ribu karyawan. Bahkan rasio penggunaan robot Malaysia dan Thailand lebih tinggi dibandingkan Indonesia, yakni 40-50 robot per 10 ribu karyawan. Kita berada satu level dengan Filipina dan India, dengan rasio 3-4 robot per 10 ribu karyawan,” ujarnya dalam acara diskusi pintar Forum Wartawan Otomotif Indonesia (FORWOT) bertajuk Peningkatan Daya Saing Industri Otomotif Indonesia Menuju Era Otomotif 4.0 di Jakarta, Kamis (15/8/2019). 

Sakari Kuikka, General Manager Universal Robots mempresentasikan keunggulan cobot di depan pelaku industri otomotif Indonesia (Sumber Foto: FORWOT)

Universal Robots hadir di Indonesia menawarkan robot colaboratif atau disebut cobot. Cobot adalah robot yang bekerja bersama manusia dan akan segera mendorong pasar otomatisasi.

“Fitur yang ada di cobot dapat memberi manfaat besar bagi orang-orang, proses kerja dan hasil proses itu sendiri. Kolaborasi cobot dengan para pekerja mampu meningkatkan produktivitas operasional industri manufaktur hingga 85 persen, terutama pada industri otomotif,” tambah Kuikka.

Sementara faktor keamanan juga lebih terjaga meski harus berada satu lingkungan dengan pekerja. “Cobot kami rancang dengan dilengkapi sensor peraba kekuatan eksternal yang bisa membuat mesin berhenti otomatis ketika mendeteksi adanya penghalang. Sedangkan robot tradisional tidak ada sehingga berbahaya untuk bekerja dengan manusia,” jelasnya.

keunggulan lainnya adalah cobot memiliki program yang sangat mudah untuk dioperasikan manusia tanpa harus diawasi pakar khusus. Bahkan disebutkan untuk mempelajari program dan mengoperasikan cobot hanya butuh empat hari pelatihan. 

Universal Robots memiliki fasilitas produksi di Denmark dengan fasilitas reserch and developmnet (R&D) di Denmark dan Boston, Amerika Serikat. (Z) 

Otomasi Berimbas Kurangnya Fungsi SDM, Industri 4.0 Tak Sekejam Itu!

0

Jakarta – Aplikasi industri 4.0 dengan mengadopsi teknologi robot atau otomasi dalam sebuah manufaktur memberikan banyak manfaat. Selain proses yang jauh lebih cepat, juga memberikan kualitas produksi yang lebih tinggi.

Beberapa pabrikan otomotif di Indonesia menurut Sekertaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara sudah mengadopsi teknologi ini.

“Bagian pekerjaan yang sudah menggunakan robot antara lain pengelasan (welding), painting, bodi, dan sebagainya. Ini membuat kita makin kompetitif daya saingnya,” jelasnya dalam diskusi pintar Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) bertajuk Peningkatan Daya Saing Industri Otomotif Indonesia Menuju Era Otomotif 4.0 di Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Namun diakui Kukuh adopsi otomasi ini belum bisa dilakukan secara menyeluruh, harus ada tahapan-tahapannya, sehingga tidak menimbulkan efek negatif, khususnya dalam pemberdayaan sumber daya manusia (SDM).

“Yang harus diingat bahwa saat ini jumlah tenaga kerja di industri otomotif Indonesia mencapai 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung serta 350 ribu tenaga kerja langsung,” sebut Kukuh Kumara.

Menurut Kukuh, industri otomotif Indonesia merupakan salah satu industri strategis di Indonesia. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia 2018 mencapai 1,76 persen atau setara Rp 260,9 triliun.

“Industri otomotif juga masuk kelompok 10 besar investasi asing langsung di Indonesia pada 2018 senilai US$ 1 miliar,” ujarnya.

Dari sisi penjualan, sejak 2012 hingga 2018, penjualan mobil di Indonesia berada di level satu jutaan unit. Pada tahun ini, Gaikindo memprediksi penjualannya mencapai 1,1 juta unit.

Ini makin diperjelas oleh Agus Tjahajana Wirakusumah, salah satu pengamat otomotif. Menurutnya dengan diperluasnya teknologi robot dalam industri maka akan terjadi pergeseran kebutuhan sumber daya manusia. 

“Inilah yang menjadi efek samping yang mesti diperhatikan. Orang yang biasanya memutar obeng saja nantinya harus bisa melakukan programming. Ke depannya, kita harus punya (kompetensi) sumber daya manusia yang beda dari sekarang,” tegas Agus Tjahajana. 

Cobot ciptaan Universal Robots membantu meningkatkan produktivitas manufaktur (Sumber Foto: Universal Robots)

Untuk meredam hal tersebut, perlu adanya peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang ada dalam industri melalui pendidikan vokasi.

Malah pemerintah Indonesia melalui Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyakinkan bahwa tenaga manusia tidak akan sepenuhnya tergantikan oleh robot dalam implementasi industri 4.0. 

”Itu justru akan jadi opportunity atau kesempatan baru, jadi di belakang robot itu akan banyak tenaga kerja yang mengoperasikan,” ujar Airlangga beberapa waktu lalu.

Sudah menjadi tugas pemerintah untuk melakukan pelatihan kepada tenaga kerja untuk menghadapi industri 4.0 tersebut. 

Contohnya di Singapura, dalam menyambut revolusi industri 4.0, pemerintah Singapura gencar melakukan pelatihan pada pekerjanya. Sebab, sumber daya manusia ini juga yang bakal berperan mengoperasikan sistem industri.

Negara ini memiliki rasio yang tinggi untuk penggunaan teknologi robot dalam industrinya. Rasionya sekitar 658 robot per 10 ribu karyawan. Bahkan rata-rata dunia rasio penggunaan robotnya 85 per 10 ribu karyawan.

Sehingga tidak perlu ada kekhawatiran revolusi industri 4.0 bakal mengorbankan tenaga kerja dengan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal. Karena industri tak sekejam itu. (Z)