Di balik sebotol Fastron atau Enduro, ada proses produksi oli Pertamina yang tidak terlihat oleh konsumen: bahan baku ditakar, pelumas dicampur, sampel diuji di laboratorium, lalu setiap kemasan melewati rangkaian mesin otomatis. Di Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants, ketelitian pada setiap tahap menjadi bagian penting sebelum pelumas dikirim ke pasar.
OLX News – Saat mengganti oli mobil atau motor, pemilik kendaraan biasanya hanya memperhatikan merek, tingkat kekentalan, dan rekomendasi pabrikan. Setelah tutup botol dibuka, pelumas dituangkan ke mulut mesin, lalu kendaraan kembali dipakai untuk aktivitas sehari-hari.
Namun, pernahkah terpikir apa yang terjadi sebelum botol oli itu sampai ke tangan konsumen?
Di balik kemasan yang tampak sederhana, ada proses berlapis‑lapis yang menentukan mutu setiap produk pelumas Pertamina. Mulai dari pencampuran bahan baku yang harus sesuai spesifikasi, pemeriksaan hasil campuran, kontrol jumlah pelumas dalam kemasan, hingga pemberian identitas produk agar bisa ditelusuri.
Tidak semua tahapan tersebut terlihat ketika seseorang membeli pelumas di bengkel.
Seluruh gambaran tersebut diperlihatkan pada OLX News saat berkesempatan mengunjungi Production Unit Jakarta (PUJ) milik Pertamina Lubricants. Di fasilitas ini, semua proses produksi pelumas Pertamina diperlihatkan langsung, dari awal hingga masuk kemasan, siap diedarkan.
Blending dan Filling: Dua Proses Utama Dalam Proses Produksi Pelumas

Proses produksi pelumas Pertamina terdiri dari dua tahapan utama, yakni blending atau pencampuran bahan baku dan filling atau pengisian pelumas ke dalam kemasan.
“Dua tahapan tersebut merupakan bagian utama dalam proses produksi pelumas. Seluruh proses produksi sudah menggunakan mesin otomatis, namun tetap butuh pengawasan, pemeriksaan laboratorium, dan pengendalian di setiap tahapannya,” jelas Dody Arief Aditya, Manager Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants, Rabu (28/10/2026). Dari sinilah cerita botol oli dimulai. Bukan dari etalase toko atau bengkel, melainkan dari bahan baku yang harus melewati serangkaian proses sebelum siap dipakai.
Ganti Oli Makin Murah, Pertamina Tebar Promo Sumpah Pemuda Penuh Cashback
Proses Blending Pelumas Pertamina
Di area blending, bahan baku pelumas diproses lewat sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan produksi. PUJ memiliki beberapa metode pencampuran dengan kapasitas berbeda, mulai dari sistem batch hingga jalur yang menangani volume lebih besar.
Salah satunya Automatic Batch Blending (APB) dengan kapasitas sekitar 30 ton per batch. Sistem ini terhubung ke banyak tangki bahan baku, sehingga dapat menangani produk yang kebutuhan produksinya tidak terlalu besar.
Ada pula Simultaneous Method of Blending (SMB) dengan kapasitas sekitar 37 ton per jam. Sistem blending berkapasitas lebih besar disebut In Line Blending (ILB) dengan kemampuan memproduksi pelumas sekitar 77 ton per jam.
Perbedaan kapasitas ini bukan sekadar ukuran mesin. Pemilihan sistem mempertimbangkan kebutuhan pasar, volume produksi, dan jumlah tangki bahan baku yang terhubung ke masing‑masing jalur.
Produk yang permintaannya terbatas dapat diproses menggunakan jalur berkapasitas kecil. Sebaliknya, produk dengan kebutuhan volume tinggi memerlukan sistem yang mampu bekerja dalam jumlah besar.
“Di ruang kontrol, operator kami menentukan produk yang akan diproduksi melalui sistem komputer. Setelah jenis produksi diinput, jalur suplai bahan baku yang dibutuhkan atau yang sesuai dengan spesifikasi pelumas akan terbuka,” kata Dody Arief Aditya.
Proses produksi oli Pertamina memastikan pencampuran berjalan sesuai spesifikasi produk yang telah ditetapkan. Namun, bahan baku yang sudah tercampur belum otomatis menjadi pelumas siap kemas. Masih ada tahap yang menentukan apakah hasil blending dapat diteruskan ke proses berikutnya.
Proses Pigging dan Cek Laboratorium, Menjaga Kualitas di Tengah Proses Produksi

Setelah pencampuran selesai, pelumas dialirkan ke tangki holding. Tangki ini berfungsi sebagai tempat penampungan sekaligus lokasi pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium.
Tahap lain yang tidak kalah penting adalah membersihkan jalur pipa sebelum produk berikutnya masuk. Karena satu fasilitas produksi dapat menangani berbagai jenis pelumas, sisa produk di dalam pipa harus diatasi agar tidak mengganggu mutu pelumas yang sedang diproduksi. Untuk itu dipakai sistem pigging, yaitu mendorong sisa pelumas dengan bola khusus yang bergerak di dalam pipa.
Setelah itu, jalur dibilas dengan base oil atau minyak dasar sesuai prosedur. Dalam sistem produksi, sekitar lima persen base oil dari kebutuhan dipakai untuk proses pembilasan, lalu dialirkan ke tangki holding.
Bukti Kepercayaan Konsumen, Pertamina Fastron Raih WOW Brand 2026
Karena ada bahan yang masuk pada tahap akhir, pelumas di dalam tangki harus disirkulasikan agar tercampur rata. Durasi sirkulasi tergantung pada jumlah dan jenis pelumas yang diproses. “Prosesnya berlangsung sekitar 30 menit,” terang Dody.
Tahap selanjutnya adalah pengambilan sampel oleh petugas laboratorium. Hasil pemeriksaan menentukan apakah pelumas sudah memenuhi persyaratan untuk masuk ke proses pengisian.
Prinsipnya sederhana: pelumas tidak langsung dikemas hanya karena pencampuran selesai. Pemeriksaan harus dilalui dulu sebelum produk bergerak ke tahap berikutnya.
Di sinilah pengendalian mutu berperan. Hasil produksi harus memenuhi spesifikasi yang ditentukan, bukan sekadar tampak seragam atau berwarna sesuai.
Enam Jalur Pengisian dengan Tugas Berbeda
Setelah dinyatakan memenuhi persyaratan, pelumas dialirkan ke area filling. Di gedung pengemasan botol PUJ ada enam jalur, FL1 sampai FL6.
Setiap jalur dipakai sesuai ukuran dan karakteristik kemasan. FL1 biasanya untuk botol 1 liter, FL2 untuk 0,8 liter, dan FL3 untuk botol 1 liter dengan tutup pengaman khusus. FL4 dipakai untuk kemasan 4 liter, FL5 untuk 5 liter, dan FL6 untuk 10 liter.
Pembagian ini bukan berarti satu jalur hanya boleh menangani satu jenis pelumas. Selama mesin, kemasan, dan pengaturan produksi cocok, jalur yang sama dapat dipakai untuk produk berbeda.
Hal ini penting karena klasifikasi SAE, yang menunjukkan tingkat kekentalan pelumas, tidak menjadi dasar pembagian jalur filling. Spesifikasi produk ditetapkan tim pengembangan produk, sementara pemilihan jalur pengisian lebih dipengaruhi kebutuhan kemasan dan kesiapan mesin.
Dari luar, rangkaian mesin pengemasan tampak seperti satu jalur panjang. Padahal tiap bagian punya tugas masing‑masing yang saling terkait.
Proses Filling, Terisi dengan Takaran Tepat

Pengemasan dimulai dari mesin unscrambler. Mesin ini memasok botol kosong dan menyusunnya agar bergerak teratur di jalur produksi.
Botol kemudian melewati mesin orienter untuk menyamakan arah. Posisi botol harus tepat sebelum masuk ke mesin pelabelan otomatis, sehingga label dapat dipasang pada bagian yang benar.
Setelah label terpasang, botol bergerak ke mesin filler dan capper. Di sini pelumas dimasukkan ke dalam kemasan.
Pengisian dilakukan berdasarkan berat, dengan timbangan pada tiap posisi pengisian. Sistem memantau apakah jumlah pelumas yang masuk sesuai dengan target yang ditetapkan. “Jika berat tidak sesuai batas, botol akan otomatis dipisahkan dari jalur utama. Produk itu tidak akan diteruskan sebagai barang siap jual,” tegas Dody Arief.
Pertamina Lubricants Luncurkan Enduro Service, Solusi Perawatan Kendaraan Praktis di SPBU
Berat yang tidak cocok bisa muncul karena beberapa hal. Salah satunya, pada akhir pengisian udara ikut terbawa sehingga timbangan tidak sesuai standar.
“Produk itu masuk kategori non‑conforming atau NG. Harus diperiksa dan ditangani lewat proses rework sesuai prosedur. Kalau ada busa, misalnya, pelumas didiamkan dulu sampai busanya turun, lalu diperiksa lagi.”
Proses ini menunjukkan kecepatan produksi bukan satu‑satunya hal penting. Ketepatan volume tiap kemasan pelumas Pertamina juga menjadi bagian dari pengendalian mutu.
Segel dan Kode Produksi, Identitas Ganda Penjaga Keaslian

Setelah pengisian, botol masuk tahap penyegelan. Salah satu proses yang dipakai adalah induction sealing, yaitu menempelkan lapisan aluminium foil pada bagian dalam tutup ke bibir botol.
Lapisan itu menjadi bagian pengaman kemasan. Setelah penyegelan, tutup dipasang dan botol bergerak ke mesin laser untuk mencetak kode produksi.
Kode ini berfungsi sebagai identitas batch. Produk dengan nama yang sama belum tentu berasal dari batch yang sama, misalnya bila pelumas diambil dari tangki holding berbeda.
Dody Arief menjelaskan, kode yang tercetak pada ring tutup dan leher botol harus cocok satu sama lain. “Kode memuat informasi batch, tahun, serta lokasi produksi menurut sistem penomoran yang berlaku.”
Bagi konsumen, memeriksa kode menjadi langkah penting untuk mengenali produk pelumas Pertamina. Namun, keaslian oli tidak boleh ditentukan hanya dari satu angka atau tampilan cetakan. Informasi kode lokasi harus dicocokkan dengan keterangan resmi Pertamina Lubricants.
QR Code Menambah Cara Memeriksa Identitas Oli
Kemasan oli Pertamina kini dilengkapi label QR Code. QR Code bukan pengganti pemeriksaan fisik, melainkan tambahan untuk memastikan identitas produk.
Di tengah banyaknya produk palsu, label kemasan menjadi hal penting.
Saat dipindai dengan smartphone, QR Code mengarahkan ke laman pemeriksaan yang menampilkan informasi produk, termasuk nama dan data identifikasi lain sesuai sistem yang dipakai.
Jumlah pemindaian yang tercatat dapat menjadi petunjuk tambahan, namun tidak bisa menjadi satu‑satunya dasar menilai keaslian produk. Riwayat pemindaian harus dipahami dalam mekanisme pemeriksaan resmi.
Jika informasi pada laman tidak cocok dengan produk yang dipegang, atau muncul keterangan mencurigakan, langkah paling aman adalah menghubungi layanan resmi Pertamina Lubricants untuk memastikan status produk sebelum dipakai.
Untuk menghindari oli Pertamina palsu, konsumen harus lebih jeli dan memeriksa beberapa hal sekaligus: kondisi botol dan tutup, segel aluminium foil, kode batch, label pengaman, serta informasi dari QR Code. Semakin banyak data yang cocok dengan data resmi, semakin kuat dasar menilai keaslian produk.
Langkah ini mengingatkan bahwa konsumen berperan penting dalam menjaga keamanan penggunaan pelumas. Memilih oli bukan hanya soal harga dan jenis yang cocok untuk mesin, tetapi juga memastikan produk berasal dari sumber terpercaya.
Kapasitas Produksi Hingga Ribuan Kiloliter per Hari

Skala produksi di Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants menunjukkan besarnya kebutuhan pelumas untuk kendaraan dan industri. Menurut data yang disampaikan Dody Arief Aditya, total produksi unit ini berada di kisaran 900‑1.200 kiloliter per hari, mencakup pelumas dalam botol, drum, dan pengiriman curah. Untuk kemasan botol, kapasitas mencapai sekitar 25.000‑30.000 dus per hari. Produksi dalam kemasan drum berada di kisaran 1.600‑1.800 drum per hari.
Pengiriman curah mencapai sekitar 200‑250 kiloliter per hari. Pelumas curah ini melayani kebutuhan industri yang memerlukan pasokan dalam jumlah besar.
PUJ memiliki total 14 jalur pengisian: enam jalur botol, empat jalur drum, dan empat jalur curah. Setiap jalur melayani karakteristik pengemasan yang berbeda, sehingga pengaturan produksi harus menyesuaikan kebutuhan pelanggan dan jenis produk.
Jumlah seri pelumas yang ditangani berada di kisaran 50 seri, sedangkan varian berdasarkan SKU mencapai sekitar 400 bila dihitung dari perbedaan ukuran kemasan. Satu seri yang tersedia dalam ukuran 1 liter, 4 liter, dan 10 liter, misalnya, dapat dihitung sebagai tiga SKU berbeda.
Angka‑angka itu menunjukkan bahwa satu fasilitas produksi harus mengatur banyak jenis produk pelumas dan kemasan. Jadwal produksi, kesiapan mesin, serta kebersihan jalur menjadi bagian dari pengelolaan yang saling berkaitan.
Jangan Asal Tuang! Ini Alasan Wajib Pakai Spesifikasi Oli Pabrikan Biar Mesin Awet
Keseimbangan Teknologi dan Manusia
Sistem otomatis membantu mengatur suplai bahan baku, aliran pelumas, dan pergerakan botol. Operator dapat menentukan produk dan jalur yang digunakan melalui ruang kontrol, sementara sensor memantau kondisi pada sejumlah titik produksi.
Namun, otomatisasi bukan berarti seluruh proses berjalan tanpa campur tangan manusia. Pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan untuk menentukan kelayakan hasil blending. Operator juga perlu memastikan jalur siap digunakan, sementara tim perawatan menjaga kondisi mesin agar produksi dapat berjalan sesuai rencana. Ketika satu mesin mogok, jalur produksi bisa terhenti. Pengelola lalu mencari jalur lain yang cocok, memperhatikan kesiapan mesin, jenis kemasan, dan jadwal kerja.
Pembagian tugas menunjukkan teknologi dan tenaga kerja saling melengkapi. Sistem menjaga konsistensi proses, sementara manusia memeriksa hasil dan mengambil tindakan bila ada penyimpangan.
Kualitas Produk Oli Pertamina Dimulai Jauh Sebelum Mesin Kendaraan Dinyalakan

Melihat proses produksi di PUJ memberi gambaran bahwa sebotol oli bukan sekadar cairan yang dimasukkan ke kemasan. Sebelum sampai ke bengkel atau dipakai pemilik kendaraan, pelumas harus melewati pencampuran bahan baku, pembersihan jalur, sirkulasi di tangki holding, pemeriksaan laboratorium, pengisian terukur, penyegelan, dan pencetakan identitas.
Setiap tahap punya tugas berbeda. Blending memastikan bahan baku diproses sesuai spesifikasi, laboratorium memeriksa hasilnya, dan filling mengatur jumlah pelumas serta memastikan kemasan melewati proses pengendalian.
Kode batch dan QR code juga memberi cara tambahan untuk menelusuri identitas produk. Bagi konsumen, informasi ini berguna saat memeriksa oli yang akan dibeli.
Pada akhirnya, mutu pelumas Fastron maupun Enduro tidak terbentuk sesaat setelah mesin kendaraan dinyalakan. Kualitas itu ditempa lewat proses panjang yang diawasi ketat sejak di dalam pipa pabrik, memastikan setiap tetes cairan yang keluar telah memenuhi standar tertinggi sebelum menempuh perjalanan bersama pengendara.
Dari tangki pencampuran hingga botol yang siap dikirim di Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants, setiap langkah menjadi bagian dari upaya menjaga agar pelumas yang diterima konsumen sesuai dengan spesifikasi dan identitas produk yang ditetapkan.

























