Rabu, Mei 29, 2024
Lainnya
    InformasiIni Sejarah Jalan Tol Pertama di Indonesia

    Ini Sejarah Jalan Tol Pertama di Indonesia

    Sejarah Jagorawi, jalan tol pertama di Indonesia yang dibangun di era Soeharto.

    News.OLX – Tahukah kamu jalan tol pertama indonesia berada pada lintas Jagorawi? Bagi kamu yang sering melintasi wilayah Jakarta, Cibubur, Citeureup, Bogor, dan Ciawi, pasti tak asing lagi dengan Jalan Tol Jagorawi.

    Namun bagi kamu yang bukan dari Jakarta, mungkin ini adalah informasi yang patut disimak. Sebabnya, jalan tol berbayar yang membentang sejauh 59 kilometer ini telah menjadi bagian penting dalam perkembangan jaringan jalan tol di Indonesia.

    Sejarah jalan tol pertama di Indonesia

    Kisahnya dimulai saat Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, meresmikannya pada 9 Maret 1978, yang artinya sudah berusia 43 tahun. Ketika meresmikan jalan tol ini, Soeharto semringah dan berbangga dengan kualitasnya.

    “Jalan Tol Jagorawi merupakan jalan terbaik yang kita miliki,” kata Soeharto dalam peresmian Tol Jagorawi, seperti dikutip kompas.com.

    Acara peresmian ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL) Sutami, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Tjokropranolo, dan Gubernur Provinsi Jawa Barat Aang Kunaefi. Tak hanya itu, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Edward E Masters, dan Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Jae Suk Lee, juga turut hadir dalam peresmian tersebut.

    Baca Juga: Daftar Tarif Tol Bandara Soekarno Hatta Terbaru 2023

    Jalan Tol Jagorawi dibangun dengan tujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sekitar wilayah Jakarta. Soeharto percaya bahwa dengan hadirnya jalan tol ini, daerah-daerah sekitar akan semakin berkembang, dan hal ini akan membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

    “Dengan demikian, akan makin banyaklah daerah yang bangkit. Sehingga, makin luas pula jangkauan lapisan masyarakat yang dapat memperbaiki tingkat kehidupannya,” tambah Soeharto.

    Nama “Jagorawi” sendiri adalah akronim dari Jakarta-Bogor-Ciawi, yaitu tiga kota yang dihubungkan oleh jalan tol ini. Namun, perlu diketahui bahwa ide pembangunan jalan tol ini sebenarnya sudah muncul jauh sebelum diresmikan, yaitu pada tahun 1955.

    Waktu itu, Wali Kota Jakarta saat itu, Sudiro, mengusulkan konsep jalan tol berbayar untuk membantu Pemerintah Kotapraja Jakarta Raya mendapatkan tambahan dana untuk pembangunan. Namun, usulan tersebut ditolak oleh DPRDS saat itu, yang menganggap jalan tol akan mengganggu lalu lintas.

    Selain itu, penolakan diperkuat dengan alasan penarikan tarif tol yang dianggap dianggap usang. Barangkali, DPRDS menolak karena orang Indonesia sudah lelah dengan tata cara penarikan tarif jalan yang dulu kerap dilakukan orang Belanda di zaman penjajahan.

    Kembali diusulkan

    Pada tahun 1966, Menteri PUTL Sutami mengusulkan ide yang sama kepada Presiden Soeharto. Hal ini karena kemacetan lalu lintas semakin parah akibat pertumbuhan jumlah kendaraan.

    Saat itu, tercatat 220.000 kendaraan melintasi jalan raya Jakarta setiap hari, dengan 9.000 di antaranya adalah kendaraan yang melintasi jalur Jakarta-Bogor. Ide pembangunan jalan tol mulai digagas, dan perkiraan biaya pembangunan mencapai Rp 7,6 miliar.

    Pada saat yang sama, rencana pembangunan jalan tol ini bersinergi dengan pembangunan pabrik semen di Cibinong, Bogor, yang didanai oleh Kaiser Cement dari Amerika Serikat. Kaiser Cement meminta pemerintah Indonesia menyediakan akses jalan yang memadai, sehingga Pemerintah AS bersedia memberikan pinjaman untuk mendongkrak pembangunan jalan tol.

    Pinjam dana Paman Sam

    Adapun pinjaman dana Amerika dilakukan melalui USAID sebesar 28,6 juta dollar AS. Pemerintah Indonesia juga menyumbang sejumlah dana, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk diamanatkan untuk mengelola proyek tersebut.

    Pembangunan Jalan Tol Jagorawi dimulai pada tahun 1974 dengan kontraktor asing, Hyundai Construction Co dari Korea Selatan, dan konsultan supervisi dari Ammann-Whitney & Trans Asia Engineering Associates Inc dari AS. Hal ini tak lantas berjalan mulus.

    Ide pembuatan tol lewat kontraktor asing tentu mendapat banyak kritikan keras. Lantaran orang Indonesia dianggap harus bisa berdikari dalam membangun tol dalam negeri dengan tangan sendiri. Apalagi gagasan ekonomi Ekonomi Berdikari digagas langsung oleh pendiri negeri, Bung karno.

    Meskipun kontroversial karena penggunaan kontraktor asing, Soeharto menegaskan bahwa banyak orang Indonesia juga terlibat dalam pembangunan jalan tol tersebut. Alhasil pembangunan jalan tol tetap dilakukan hingga tuntas.

    “Walaupun kontraktornya dari luar negeri, namun tidak sedikit pula pikiran dan tenaga kita yang ikut serta menyelesaikan jalan istimewa itu,” tegas Soeharto.

    Pada waktu pembangunan Jalan Tol Jagorawi, terdapat sebanyak 129 Tenaga Pengawas Pekerjaan dan 2.711 Pelaksana Pekerja yang berasal dari Indonesia.

    Selain itu juga keterlibatan 7 Tenaga Pengawas Pekerjaan dari Amerika Serikat dan 172 Pelaksana Pekerja yang berasal dari Korea Selatan.

    Jalan Tol Pertama Indonesia (1)

    Jalan tol pertama di Indonesia diresmikan

    Pada 9 Maret 1978, ruas Jakarta (Cawang)-Cibinong sepanjang 27 kilometer diresmikan oleh Soeharto sebagai jalan tol pertama di Indonesia di depan pintu tol Jembatan Taman Mini, Jakarta Timur.  Setahun kemudian, ruas Cibinong-Bogor dan Bogor-Ciawi pun diresmikan.

    Biaya pembangunan Tol Jagorawi menghabiskan dana hingga Rp350 juta per kilometer. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, dana yang dipakai untuk pembangunan tol ini diambil dari APBN dan utang negara.

    Pemerintah menyediakan dana anggaran pembangunan jalan tol pertama sebesar USD10,3 juta atau sebesar 30 persen dari total biaya pembangunan. Sisanya, pemerintah mengajukan pinjaman kepada Amerika Serikat sebesar USD 22,8 juta untuk proyek selama 5 tahun.

    PT Jasa Marga (Persero) Cabang Jagorawi dibentuk untuk mengelola operasional jalan tol ini. Sejak saat itu pula awal dari kelahiran Jasa Marga sebagai perusahaan pengembang dan operator jalan tol di Indonesia.

    Hingga saat ini, Jalan Tol Jagorawi tetap menjadi salah satu jalan tol utama di Indonesia, dengan struktur konstruksi yang masih prima dan pemandangan hijau yang menyegarkan.

    Bahkan, baru-baru ini, tol ini meraih sertifikasi bintang tiga dari International Road Assessment Programme (iRAP) untuk tingkat keselamatan, menunjukkan betapa pentingnya peran Jalan Tol Jagorawi dalam perkembangan infrastruktur jalan di Indonesia.

    Itu adalah sejarah singkat Tol Jagorawi, yang merupakan jalan bebas hambatan pertama di Indonesia. Selain penjelasan di atas, kamu bisa mendapatkan berbagai informasi menarik lainnya seputar otomotif di OLX Member of ASTRA.

    Kamu juga cari mobil dan motor bekas impianmu dengan mengakses OLX melalui aplikasi dengan mengunduhnya di Play Store dan App Store.

    GIIAS 2023
    Populer
    Reka Harnis
    Reka Harnis
    Passionate about turning ideas into engaging, informative, and SEO-friendly content.
    Berita Terkait